
BIREUEN, KOMPAS.com — Polres Bireuen menemukan sebuah gudang pengolahan obat kedaluwarsa di Desa Tingkeum Manyang, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen. Selain itu, polisi juga menyita dua truk obat berbagai jenis yang sudah mencantumkan label baru dengan masa pakai hingga 2013 dari yang seharusnya 2004.
petikan berita itu tentu cukup mengagetkan, di tengah kondisi masyarakat yang mendambakan kesehatan yang baik, harga obat yang terjangkau, masih ada saja pihak-pihak yang tanpa memperhatikan kerugian yang bakal menimpa orang lain, dan hanya berfikir tentang keuntungan material saja tega melakukan hal itu.
padahal tentu saja resiko yang bakal diterima oleh para pembeli obat-obatan itu sangatlah besar. setiap obat-obatan pasti mengandung berbagai macam unsur kimia yang dipastikan akan mengandung resiko bagi yang mengkonsumsinya jika sudah memasuki masa kadaluwarsa. belum kadaluwarsa saja, setiap obat pasti mencantumkan efek samping bagi yang mengkonsumsinya. apalagi jika obat itu sudah kadaluwarsa, maka resikonya pasti jauh lebih berbahaya ketimbang hanya resiko efek samping belaka.
namun di tengah hiruk pikuk berita tentang pilpres, berita ini pasti tidak akan menarik perhatian dari khlayak ramai, padahal, ketika hari ini terbongkar bahwa yang terjadi penimbunan obat kadaluwarsa ada di Aceh sana, tidak ada jaminan bahwa di tempat kita, di sekitar kita juga beredar obat-obatan semacam itu. apalagi disebutkan bahwa sumber dari obat-obatan kadaluwarsa itu adalah dari Jakarta, maka sangat mudah dari sana obat-obatan ini akan beredar kemana saja di seantero Indonesia.
perlu langkah-langkah yang cepat dan efektif untuk memastikan terhentinya praktek-praktek yang mebahayakan masyarakat seperti ini, langkah yang sedemikian taktis yang melibatkan semua pihak yang terkait, dari depkes, kepolisian, BPPOM, dan masyarakat sendiri yang harus juga teliti terhadap setiap obat yang dibelinya.
dan di tengah hiruk-pikuk menjelang pilpres ini, belum pernah saya mendengar komitmen dari para capres tentang masa depan dunia kesehatan Indonesia, selain hanya mengeluh dan saling menyindir satu sama lain, padahal apakah membangun Indoesia cukup dengan mengeluh dan menyindir saja?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar