Selasa, 16 Juni 2009

I Love United States with all its faults. I consider it my second country

Assalamu ‘alaikum wr wb

Semua dari kita tentu faham benar, bahasa itu sedikit banyak menyiratkan atau menggambarkan pribadi dan karakter seseorang. Artinya jika seseorang terbiasa berbahasa dengan santun, maka bisa dinilai, bahwa dia punya pribadi yang santun, dan sebaliknya (dengan catatan ini semua adalah hal yang natural dan alami, bukan demi sinetron atau pertunjukan, tapi murni cara berbicara dan bernahasa sehari-hari)

Di kalangan anak muda, jika seorang abg tidak faham bahasa gaul, maka tentu akan mudah lah kita saksikan dia akan tersisih dalam pergaulannya. Seorang guru di kelas, ketika dia mampu memahami dan kadang-kadang mempargunakan bahasa gul anak muda, tentu akan lebih disukai oleh murid-muridnya serta akan dinilai sebagai guru yang “ngepren” oleh murid-muridnya tersebut, dibanding dengan guru yang menggunakan bahasa standar orang yang seumuran dengan dirinya. Seseorang yang terlihat berbeda di dalam penggunaan bahasa dibanding dengan orang di sekitarnya tentu akan juga tersisih dan sulit untuk bisa masuk dalam lingkungan pertemanan atau lingkungan bertetangga. Apalagi jika orang itu adalah orang baru di lingkungan tersebut, maka factor bahasa adalah salah satu kunci untuk beradaptasi yang cukup menentukan.

Itu semua karena bahasa adalah gerbang pergaulan

Tak terkecuali adalah bahasa yang dipakai oleh pemimpin kita, para elit yang duduk di kursi empuk kekuasaan.

Bahasa mereka tentu akan menjadi salah satu factor yang menjadi bahan pertimbangan bagi rakyat dalam menentukan pilihannya, manakala akan ada pemilihan. Seorang yang terlihat santun dalam berbicara tentu akan lebih mendapat penilaian yang baik disbanding dengan seorang calon pemimpin yang tidak santun dalam berbicara dan berbahasa.

Syahdan katanya dulu Pak harto, adalah seorang pemimpin yang selalu berbahasa dengan menggunakan bahasa yang santun, dan tidak pernah terdengar sekalipun menggunakan bahasa asing manakala berbicara dengan masyarakat (bahkan ketika berbicara dengan pemimpin negeri lain)

Tapi jaman telah berubah..

Kini sang pemimpin berbicara, masih dengan bahasa santun, sih, tapi ada satu kelebihannya, karena tahu bahwa rakyat Indonesia sekarang sudah tidak buta huruf lagi, sudah meningkat derajat pendidikannya, maka sebagai pemimpin, tentu harus juga menunjukkan betapa pendidikan di Indonesia memang sudah maju, maka tak heran sering kita dengar satu dua kata berasal dari bahasa Inggris ketika sang pemimpin sedang bicara dengan rakyat.

Dan karena bahasa Inggris kita lebih didominansi oleh bahasa Inggris yang beraksen Amerika, maka tak heran untuk menunjukkan betapa sang pemimpin bukan hanya mahir berbahasa Inggris ala Amerika, tapi juga memang sang pemimpin adalah teman dekat atau katakanlah bukan orang lain lagi bagi Amerika, maka enam tahun yang silam dalam sebuah kunjungan ke Amerika Serikat, sang pemimpin yang kala itu menjabat sebagai menteri yang ngurusi politik dan keamanan sebagaimana dirilis oleh International Herald Tribune Washington pada tanggal 8 Agustus 2003, dalam pidatonya di negeri Paman Sam itu, sang pemimpin berbicara dengan bahasa Inggris yang fasih , “I Love United States with all its faults. I consider it my second country”. Pernyataan itu bisa kita terjemahkan, “Saya cinta Amerika dengan segala kesalahannya. Saya menganggapnya negara kedua saya.

Hebat bukan, pinter banget bahasa Inggrisnya, he5


Tidak ada komentar:

Posting Komentar