Semua orang juga tahu bahwa jabatan ketua RT (rukun tetangga) di kampong adalah jabatan yang pailing disingkiri, atau dalam bahasa ditempat kami “diemohi”. Bagaimana tidak diemohi, ketua RT bukan hanya menjadi ujung tombak pembangunan di tingkat RT tapi juga menjadi ujung tombok (yang paling sering tombok) dalam setiap pengeluaran anggaran bagi kepentingan RT.
Tak ada honor yang mereka terima selama 3 tahun bahkan lebih mereka mengabdikan diri sebagai yang dituakan di tingkat RT. Berbagai persoalan menjadi makanan sehari-hari baginya, mulai dari urusan irigasi yang macet, rumah tangga rebut, bahkan urusan penarikan pajak PBB dan sebagainya.
Tapi tak pernah sekalipun kudengar keluh kesah dari ketua RT ditempatku. Tak pernah sekalipun dia merasa capai telah menjadi RT yang sungguh untuk membayangkan menjadi saja saja saya tak pernah.
Maka tiba-tiba saja mendengar seorang calon “ketua RT” negeri ini yang masih menjadi “ketua RT” mengeluh hanya tidur 4 jam sehari karena memikirkan rakyat, mengeluh karena merasa dikeroyok oleh para kompetitornya, mengeluh ini , mengeluh itu, dalam hati saya sedih, kok “Pak RT” yang ini, yang terlihat gagah, tinggi, tegap begitu mudah mengeluh. Saya jadi teringat dengan kata-kata yang sering diucapkannya setiap kali ada masalah “ malu sama rakyat”
Kira-kira apa ketika sedang mengeluh pada rakyat, “Pak RT” lupa dengan kata-katanya sendiri, “malu sama rakyat….”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar