Kamis, 18 Juni 2009

Sang incumbent semakin menuju kekalahan....

assalamu 'alaikum wr wb

tampaknya semakin hari, semakin menarik perkembangan yang terjadi berkaitan dengan penurunan elektabilitas pasangan incumbent ( mengapa saya suka menulis tentang pasangan ini, soalnya memang yang paling menarik untuk dibicarakan adalah pasangan yang sedang berkuasa dan ingin memenangkan kembali kursi kekuasaannya entah bagaimanapun caranya, ini penilaian saya pribadi).

tapi yang jelas adalah sah-sah saja saya menulis tentang perkembangan peta dukungan kepada yang bersangkutan yang semakin menurun dari hari ke hari.

dalam tulisan saya terdahulu : http://public.kompasiana.com/2009/06/17/sby-boediono-harus-menang/ telah saya kemukakan tetang beberapa fakta yang menunjukkan menurunnya dukungan kepada pasangan "terkuat" ini.

dan hari-hari ini kita cukup dikejutkan oleh dialihkannya dukungan dari seorang tokoh sayap pemenangan pasangan incumbent, yaitu Pimpinan pondok pesantren Miftahul Huda, Purwakarta, KH Abdul Wahid, yang juga aktivis di Majelis Dzikir Nurussalam SBY menyatakan mengalihkan dukungannya, dari semula ke pasangan incumbent berpindah menjadi ke JK Win. Alasannya sederhana saja, JK dan Wiranto mempunyai istri yang telah mengenakan jilbab pada kehidupan kesehariannya.

tentu saja ini tidak bisa dipandang sebelah mata, sekali lagi mungkin hari ini adalah tokoh Purwakarta yang mengalihkan dukungannya, besok-besok bisa jadi tokoh2 daerah lain juga akan mengalihkan dukungannya, hal ini karena tidak ada hal menarik yang coba ditawarkan oleh pasangan incumbent, kecuali sikap sok santun di satu sisi, serta suka menyindir pasangan lain di sisi yang lain, sebuah sikap yang kontradiktif, karena orang yang santun tentu tak akan menyindir orang lain atau merasa dizalimi padahal tidak ada yang menzaliminya, (ya bagaimana mungkin bisa menzalimi incumbent, he6)

apalagi ada juga pengalihan dukungan dari kader demokrat, meski di kampung halaman salah satu pasangan lain, yaitu Makassar, kepada pasangan JK Win, yang bukan tidak mungkin juga akan menyebar ke daerah-daerah lain, minimal di daerah sekitar pulau Sulawesi, tentu sedikit banyak ini akan semakin menurunkan dukungan kepada pasangan incumbent.

apalgi jika kita cermati dalam berbagai berita keluhan dari pengurus daerah partai-partai pendukung koalisi yang merasa tidak diajak komunikasi dalam pemenangan pasangan incumbent, mereka terkesan lebih suka bermain sendiri dengan "keyakinan besar" bahwa mereka akan menang dengan mudah. namun karena merasa ditinggalkan itulah banyak kita saksikan betapa para pengurus partai-partai pendukung koalisi yang justru mengalihkan dukungan kepada pasangan lain. ini tentu bukan sekedar kekecewaan dari para pengurus semata, tapi juga disadari karena arus bawah dari partai-partai pengusung koalisi incumbent banyak yang tidak sreg dengan pasangan incumbent dan lebih suka dengan tema perubahan yang diusung pasangan lain.

kasat matanya dukungan dari KH Hasyim Muzadi, Khofifah Indar Parawansa, Dien Syamsudin tentu juga akan berpengaruh (meski tidak semua bakal mengikuti) terhadap dukungan dari massa dua ormas yang mereka pimpin, kepada pasangan capres dan cawapres kali ini, yang jelas bukan ke pasangan incumbent.

pencekalan iklan pasangan Mega Pro oleh beberapa stasiun TV, sedikit banyak juga berpengaruh terhadap menurunnya dukungan kepada pasangan incumbent dan mengalirnya simpati dan dukungan kepada pasangan Mega Pro

dan akhirnya, tanda-tanda kekalahan dari pasangan incumbent semakin tidak bisa lagi ditutup-tutupi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar