Assalamu ‘alaikum wr wb
Sepintas tidak ada yang aneh dengan dengan slogan yang saya lihat di tepi jalan itu, yang dibuat oleh tim sukses sby no tersebut, sebagai kontestan tentu mereka pengin menang dalam kontestansi perebutan kursi presiden dan wakil presiden ini. Namun ada yang menggelitik dengan kata-kata yang ditulis, harus menang, ya tulisannya adalah harus menang. Tiba-tiba saja saya teringat deklarasi siap menang dan siap kalah yang senantiasa dilakukan menjelang perhelatan suatu pemilijan baik pileg, pilkada maupun pilpres. Dengan adanya tulisan harus menang ini, semakin meneguhkan pandangan saya, public.kompasiana.com/2009/06/11/damai-semu-yang-disukai/ yang kebetulan diamini oleh tulisan Bpk. Cipta Lesmana di harian kompas edisi Sabtu, 13 Juni 2009, betapa deklarasi damai siap menang dan siap kalah itu tak lebih dari sinetron untuk menghibur masyarakat Indonesia yang memang gemar nonton sinetron. Faktanya, dengan tulisan di banner itu, mereka, dalam hal ini minimal pasangan sby no, ternyata haya siap untuk menang dan sama sekali tidak siap untuk kalah.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana jika mereka ternyata kalah?
Hari-hari ini, kita dapat saksikan dengan sangat jelas, betapa kepercayaan diri dari sby no dan tim suksesnya semakin hari semakin mendekati titik nadir.
Dimulai dari merapatnya kader dan pendukung dari partai pendukung koalisi cikeas yang lompat pagar.
Awalnya adalah pernyataan petinggi PKS yang merasa khawatir SBY kalah, bahkan bilang bahwa hati sebagian kadernya ada di jilbab istri JK dan Wiranto.
Disusul pernyataan Amien Rais yang justru memuji-muji JK Wiranto di rakornas PAN, serta bilang PAN stel kendo saja menghadapi pilpres, yang berujung terbelahnya suara pendukung PAN di akar rumput yang memang kemudian tampak jelas lebih memilih JK Wiranto (sebagian ke Mega Pro) dibanding ke sby no
Disusul oleh mendekatnya petinggi PPP (dan keder2nya) dari kubu Parmusi ke kubu Mega Pro dengan mendeklarasikan FPPP.
Disusul juga dengan beberapa partai lain yang kader dan pendukungnya merapat ke kubu JK Wiranto maupun Mega Pro.
Sementara sampai detik ini, tidak pernah kita dengar petinggi atau kader partai pengusung JK Win dan Mega Pro yang merapat ke kubu sby no
Pada saat yang sama, mari ingat Rizal Mallarangeng yang dengan arogan mengatakan Kwik Kian Gie tidak bisa membedakan neolib dan neozeb, serta mengatakan bahwa boediono lebih pintar dari Kwik Kian Gie
Ruhut Sitompul mencak-mencak dengan arogan serta caci maki yg kasar mengatakan isu tentang Arab yang memancing kontroversi dan kemarahan warga keturunan Arab.
Sebelumnya SBY menghujat statemen JK “lebih cepat lebih baik” sbg sikap JK yg takabbur (mendahului tuhan).
Kemudian muncul hasil survey LSI yang menempatkan sby no dengan elektabilitas 71% yang diakui oleh LSI sendiri sebagi survey pesanan
Demokrat kecewa kepada sekutu koalisinya yg meloloskan Hak Angket DPR atas kisruh DPT pemilu legislatif 2009 yg diduga curang dan culas.
Lalu Demokrat protes keras atas monolog Butet Kertareharja yang melontarkan kritik pada saat deklarasi pemilu damai.
Kemudian propaganda berupa iklan di media tentang pilpres yang sebaiknya satu putaran saja yang dipelopori Deny JA
Terakhir adalah keluhan sby ketika kampanye di Malang yang mengeluh karena merasa dikeroyok dan merasa harus mendapat pertolongan dari rakyat untuk menghadapi itu semua…
Sebelum lupa, nyaris tak pernah sby dan timnya bicara tentang program program kerja ke depan, kecuali hanya bicara soal deretan prestasi yang coba diuraikan dan disajikan pada rakyat, serta lebih sibuk menanggapi maneuver dan jurus-jurus kampanye dari 2 pasangan lain.
Saya membaca itu semua sebagai kurva menurun yang akan semakin mencapai titik nadir kurva keyakinan diri dari sby no dan tim suksesnya.
Maka pertanyaannya adalah jika akhirnya titk nadir keyakinan diri betul-betul mencapai titik nadir, maka apakah tulisan di banner itu tetap, harus menang! atau kudu diganti harus menang……………………….is.
Kita tunggu saja sinetron episode berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar