Jumat, 31 Juli 2009

estehanget kembali memainkan gamelan....

Karawitan berasal dari bahasa Jawa rawit yang berarti rumit, berbelit-belit, tetapi rawit juga berarti halus, cantik, berliku-liku dan enak. Kata Jawa karawitan khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, musik Indonesia yang bersistem nada non diatonis (dalam laras slendro dan pelog) yang garapan-garapannya menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi, pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar.

Pada mitologi Jawa, Gamelan diciptakan oleh Dewa yang menjelmah menjadi manusia, Shivam Malholtra di era Saka 167. Kerajaan nya berdiri di pegunungan Maendra,yang sekarang di kenal dengan Gunung Lwu. Saat itu,ia memerlukan signal untuk berhubungan dengan Dewa yang lain. Maka dibuatlah Gong. Untuk pesan signal yang lebih kompleks, maka Ia memerlukan dua gong lain yaitu kempul dan siyem, yang nanti nya membentuk Gamelan.

Seperti halnya kesenian atau kebudayaan yang lain, gamelan Jawa dalam perkembangannya juga mengalami perubahan-perubahan. Perubahan terjadi pada cara pembuatanya, sedangkan perkembangannya menyangkut kualitasnya. Dahulu pemilikan gamelan ageng Jawa hanya terbatas untuk kalangan istana. Kini, siapapun yang berminat dapat memilikinya sepanjang bukan gamelan-gamelan Jawa yang termasuk dalam kategori pusaka (Timbul Haryono, 2001).

Kata “gamelan” berasal dari kata “gamel” yang berarti memukul. Maka Gamelan diartikan sebagai sekelompok instrument music yang dimainkan secara terpadu dalam sebuah kelompok. Gamelan yang lengkap mempunyai kira-kira 72 alat dan dapat dimainkan oleh niyaga (penabuh) dengan disertai 10 – 15 pesinden dan atau gerong. Susunannya terutama terdiri dari alat-alat pukul atau tetabuhan yang terbuat dari logam. Mayoritas alat music dalam kelompok Gamelan dimainkan dengan cara dipukul. Beberapa alat music dalam Gamelan yang tidak dibunyikan dengan cara dipukul adalah Suling, Rebab dan Celempung. Suling dibunyikan dengan cara ditiup sedangkan Rebab dan celempung dibunyikan dengan cara di petik. Gamelan terdiri dari banyak alat musik, seperti, Kempul, Gong, Siyem, Bonang, Suling, Kempyang, kethuk, Kenong, Sarong, Slenthem, Celempung, Kendhang, Rebab, Gender, Gambang. Ada dua system tuning untuk Gamelan yaitu Slendro dan Pelog. Sebuah alat music di dalam kelompok umumnya memiliki 2 buah alat music sehingga satu di tuning berdasakan Selendro dan yang lain berdasarkan Pelog.

Demikian sekelumit tentang gamelan sebagai pembuka postingan kali ini, yang akan sedikit berbicara menganai sekelompok anak muda yang dengan kesadaran mereka sendiri berlatih untuk bisa melestarikan kesenian karawitan, yang semakin ditinggalkan di kalangan anak muda. Bermula dari sebuah diskusi informal antara beberapa anak muda di daerah Sriharjo, sebuah desa kecil di pelosok Imogiri, yang menjadi tempat bertemunya 2 sungai legendaris di daerah Jogja, yaitu Oya dan Opak, yang konon dalam pengembaraan sebelum mendirikan kerajaan Mataram, Panembahan Senopati, pendiri Mataram, pernah melakukan lelaku menyusuri sungai Opak dan berakhir di Parangkusumo, dan bertemu dengan penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul, eh kok malah ngelantur.

Adalah seorang anak muda bernama Madek, demikian dia biasa dipanggil, bersama Mujari, Joko, dan Anung, 4 anak muda yang entah kenapa tiba-tiba tertarik untuk bisa bermain gamelan. maka setelah diskusi panjang lebar dan dengan cukup memakan waktu, mereka bisa mengajak beberapa anak muda lain untuk berlatih bermain gamelan. pada awalnya mereka juga bingung mau berlatih pada siapa, karena memang tidak banyak orang yang bisa melatih bermain gamelan. tapi keberuntungan bernaung pada anak-anak muda ini, adalah pak sudarto, seorang pensiunan PNS yang bisa bermain gamelan, bersedia untuk melatih mereka bermain gamelan. maka jadilah akhirnya tiap malam Kamis, sejak 2005, mereka berlatih untuk memainkan berbagai macam laras dan gending.

Pada awalnya, latihan dilakukan di tempat Mujari, yang entah karena kebetulan, rumahnya menjadi tempat penitipan seperangkat gamelan yang rumahnya ada di luar kota. maka mereka, anak-anak muda itu, bisa dengan tenang dan nyaman bermain gamelan di sana. demikian waktu bergulir, akhir tahun 2005, gamelan diambil oleh pemiliknya. dan kebingungan yang terjadi pada mereka, karena harus mencari tempat untuk bisa berlatih bermain gamelan. ada pilihan mereka akan berlatih di rumah budaya Tembi, di sebelah selatan kota Jogja, namun dari rumah mereka, jarak 10an kilometer tentu bukan jarak yang dekat, apalagi latihan selalu dilakukan malam hari, sehingga jika harus menempuh jarak yang cukup jauh tentu anak-anak yang ikut berlatih akan berguguran satu demi satu.

Tapi, sekali lagi, keberuntungan berpihak pada anak-anak muda itu, yang akhirnya menamakan kelompoknya dengan nama Estehanget, sebuah nama yang cukup unik, karena dimana-mana yang namanya es teh selalu dingin, anyep kata orang Jawa, tapi entah dengan filosofi apa, mereka menamakannya estehanget ( Es Teh Hangat ), sebagai orang awam saya berfikir, dengan nama nyleneh seperti itu tentu akan mudah menarik perhatian beberapa pihak. tidak jauh dari tempat tinggal anak-anak muda itu, yaitu di daerah Siluk, dahulu terkenal sebagai daerah penghasil tembakau di wilayah Jogja, terdapat pasangan suami istri pensiunan PNS yang merupakan teman dari pak Sudarto yang ternyata memiliki seperangkat gamelan di rumahnya, akhirnya di sanalah mereka berlatih setelah gamelan di rumah Mujari diambil oleh pemiliknya.

Hampir 4 tahun sudah, kini anak-anak muda itu tetap tekun berlatih untuk bisa memainkan berbagai macam gending dan laras dari gamelan Jawa. tak ada niatan lain dari anak-anak muda itu kecuali bahwa mereka tidak mau pada saatnya nanti, tidak ada lagi anak-anak muda yang bisa bermain gamelan, sebuah bentuk seni dan budaya bangsa yang bahkan di mancanegara mendapat tempat tersendiri. mereka berfikir, jika orang-orang dari Belanda, Amerika, dan banyak negara lain datang ke Jogja untuk berlatih bermain gamelan, mengapa mereka tidak juga melakukan hal yang sama. Mereka tidak mau, ke depannya, anak-cucu mereka justru harus pergi ke mancanegara untuk belajar budaya negeri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar