Mencintai negeri ini, memang bisa dengan cara apa saja, tidak harus seperti para pejuang generasi kakek nenek kita yang menggenggam bambu runcing berperang melawan tentara Belanda, tak juga harus dengan berkoar-koar di jalanan menunjukkan kecintaan pada negeri ini. Ada cara lain untuk mencintai negeri ini, mencintai budaya dan seni negeri ini, sebuah jalan sepi dan sunyi dan jarang dilalui oleh orang untuk menunjukkan kecintaan pada negeri ini. dan jalan sepi serta sunyi inilah yang dipilih oleh Ledjar Subroto, yang biasa dipanggil dengan sebutan mbah Ledjar. Di usia 73 tahun ini dirinya tak merasa seperti layaknya kakek yang renta. Geraknya masih gesit dan cenderung hiperaktif. Suaranya masih lantang, penglihatannya masih tajam. Hal ini bisa dilihat ketika warna dan garis ditorehkan pada bidang yang digambar maupun disungging.
Pertama mendengar nama mbah Ledjar adlah ketika kakak saya mendapat borongan pekerjaan membuat sebuah show room kecil di Jl. Mataram Dn 1 / 370 Jogja (jalan sebelah timur jl Malioboro yang legendaris itu) tempat mbah Ledjar berkarya dan memajang wayang-wayang hasil karyanya. dari sanalah cerita kakak saya itulah, sedikit demi sedikit saya mengenal mbah Ledjar, meski sampai sekarang belum pernah bertemu secara langsung. “Dari kecil saya memang sudah tertarik dengan dunia perwayangan,” ungkap mbah Ledjar ini pada kakak saya itu. dan karena ketertarikannya pada wayang sejak kecil itulah, mbah Ledjar, menjadi salah seorang dalang, pembuat wayang, pembuat topeng kayu dan sekaligus sebagai serang pengajar yang penuh dengan semangat. Hampir di setiap jengkal hidupnya dipenuhi dengan berkarya seni.
Di tahun 1980 dirinya merasa gelisah dengan banyak keluhan dari rekan-rekan dalang yang merasa cemas bila suatu saat wayang dan seni tradisi tak lagi memancing minat generasi setelahnya. kemudian dicobanya membuat pendekatan yang lebih sederhana dengan membuat wayang dengan basis cerita anak yang telah lama mengendap dalam ingatan banyak generasi.
Cerita kancil kemudian dijadikan salah satu proyek terpanjang dalam karir seninya selain membuat wayang revolusi dan wayang kompeni. Dari pengamatan dirinya sebuah pertunjukan tradisional harus adaptatif terhadap ruang dan waktu. Ketika diamati anak-anak kecil banyak yang berlarian di sekitar pertunjukan wayang kulit maka pilihan atas cerita kancil jadi lebih masuk akal. Sebagai salah satu karya terkenalnya, wayang kancil ini tidak berwujud tokoh-tokoh dalam perwayangan yang biasa dikenal orang, seperti Bagong, Semar, Petrok maupun Gareng, namun berbentuk binatang-binatang sepertio, gajah, buaya, ayam, dan tentunya kancil sebagai tokoh utamanya.
Wayang kancil pun menjadi salah satu media pendidikan bagi anak-anak. Dengan tokoh dan cerita dari dunia hewan yang lebih menarik dan mudah untuk mereka pahami, Ki Ledjar ingin mengajarkan dan menanamkan semangat keberanian serta berpikir kreatif dalam diri seseorang sejak dini. Tokoh yang satu ini (kancil), meskipun bertubuh kecil, pandai mencari siasat untuk mengalahkan binatang besar seperti gajah dan buaya.
Namun seperti halnya pegiat dan pelestari seni tradisional yang lain di negeri ini, justru masyarakat seni internasional lebih mengenal dan mengapresiasinya, tak heran wayang karyanya dipentaskan di Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya. Maka di saat banyak pihak meneriakkan cinta Indonesia, masyarakat seyogyanya diingatkan kembali pada keberadaan mereka. Seniman, maestro, dengan karya-karya besarnya yang menjadi penyumbang besar perkembangan seni rupa di Jawa dan Indonesia, yang telah mencintai Indonesia dengan cara mereka, yang selama ini terlupakan. Yang dari merekalah nama baik bangsa kita tetap terjaga sebagai negeri dengan keaneka ragaman budaya yang adilihung.
Beberapa museum dan kolektor yang telah mengoleksi wayang kreasi ciptaan Ki Ledjar Soebroto antara lain :
Museum Sanabudaya di Yogyakarta, mengkoleksi seperangkat wayang kancil kreasi Ki Ledjar Soebroto.
Balai Budaya Minomartani di Yogyakarta, mengkoleksi seperangkat Wayang Kancil kreasi Ki Ledjar Soebroto.
Museum Mayang H. Budiharjo di Pondok Tingal Magelang, Jawa Tengah.
Selain dikoleksi oleh Ki Manteb Sudarsono di Karangayar, Jawa Tengah dan Museum Wayang di Jakarta,
Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta juga mengkoleksi seperangkat Wayang Kancil kreasi ciptaan Ki Ledjar Soebroto.
Beberapa museum di luar negeri yang mengoleksi wayang kancil Ki Ledjar adalah :
Tim Byard-Jones, University Of London, di Inggris,
Ubersee Museum di Bremen, Dr. Walter Angst di kota Salem dan Arno Mozoni-Fresconi di Hamburg Jerman.
Volkenkundig Museum Gerardus Van der Leeuw di kota Groningen,
V.M Clara Van Groenendael di kota Amsterdam, Museum Westfreis, Museum Horn, di kota Hoorn, Museum Tropen di Amsterdam, dan Museum Kantjiel, di Leiden, Belanda
Tamara Fielding “The Shadow Theather Of Java” di New York Amerika Serikat dan
Museum Of Anthropology (Dominique Major) di Kanada.
Akhirnya, semoga kita bisa belajar untuk lebih bisa meneguhkan semangat kecintaan kita pada tanah air kita lewat berbagai hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar