Jumat, 14 Agustus 2009

kalau gini-gini terus, teroris bakal ada terus...

selama ini kita sibuk dengan reaksi yang muncul manakala aksi terorisme baru saja berlangsung, pemerintah juga terkesan begitu lambat menangani terorisme ini, bahkan mungkin terkesan lengah, karena hampir beberapa tahun tidak lagi terjadi pemboman pasca tertembak matinya Dr. azahari beberapa tahun silam.

berbagai instansi terkait sebenarnya punya banyak sumber daya baik SDM ataupun peralatan untuk mengendus para teroris itu, bukankah masih ada BIN, BAIS di militer, ada kepolisian yang punya densus 88, belum lagi desk anti teror di militer, anggaran juga ada, sehingga sebenarnya, dengan jaringan yang ada, mereka (para instansi yang terkait itu) seharusnya punya kemampuan untuk menghentikan berbagai aksi teror itu sebelum terjadi.

namun yang terjadi adalah, aparat terkesan bergerak setelah kejadian, sehingga yang ada adalah kecolongan dan kecolongan terus yang terjadi selama ini. kasus dani yang masih ABG jelas merupakan pola baru yang bisa jadi belum diantisipasi oleh aparat, bayangkan saja teroris yang masih berumur belasan tahun! di negeri kita ini, sementara masyarakat kebanyakan hanya bisa menghujat mereka, padahal, kalau kita juga bersedia berfiir agak lebih mendalam, mereka, anak-anak muda itu, sebenarnya juga adalah korban dari lingkaran teror yang tak berkesudahan itu. entah bagaimanapun keblingernya paham mereka menurut kita, yang menghalalkan darah tertumpah di negeri yang tidak masuk kategori wilayah perang seperti Indonesia, tidak bisa juga hanya diselesaikan dengan reaksi sesaat saja, tidak bisa hanya dengan menangkap para gembong teroris semisal Nurdin M Top saja, karena ketika akar dari terorisme ini tidak diselesaikan, maka ketika Nurdin tertangkap bahkan tertembak mati sekalipun, jika akar terorisme ini tidak diselesaikan, maka rasa-rasanya kok terorisme akan tetap ada di bumi Indonesia kita tercinta ini.

lalu apa akar terjadinya terorisme itu, salah satunya adalah masalah kemiskinan, karena di negara-negara yang relatif maju, terorisme ini relatif jarang terjadi, tidak usah jauh-jauh saja contoh di Malaysia dan Singapura jarang terjadi pemboman, karena merekrut calon pengebom di sana susah,bandingkan dengan di negara kita, lalu di Thailand dan Philipina, meski dengan latar belakang politik yang berbeda dengan yang terjadi di Indonesia, karena ada faktor pergolakan daerah di kedua negara tersebut, namun faktor kemiskinan menjadi salah satu faktor yang memicu perlawanan mereka dan melahirkan terorisme, yang bahkan juga mendapat dukungan dari orang-orang Indonesia semacam Faturahman al Ghozi dan lain-lain.

jadi diperlukan pendekatan baru untuk memberantas terorisme ini, apalagi, ini juga menyangkut ideologi, yang tidak mudah untuk memberantasnya, karena jika ideologi teror ini masih ada dan selama kemiskinan, yang merupakan lahan subur bagi berkembangnya ideologi radikal dan ideologi teror, masih subur di negeri ini, sementara simbol-simbol kemewahan dari negara barat tampak begitu nyata di sini, maka janganlah heran, sebagaimana yang disampaikan oleh mantan kepala BIN, Hendropriyono, bahwa teroris itu akan selalu mati satu tumbuh seribu. sehingga jika hari ini korban-korban perekrutan ideologi teror itu adalah anak-anak ABG yang masih belum stabil pemahaman keagamaannya, sehingga begitu mudah untuk dimanipulasi kesadarannya oleh para ideolog teror itu, maka jangan kaget jika di hari-hari mendatang akan ada lagi metode perekrutan lain, yang bisa jadi tak terbayangkan oleh kita saat ini, karena kita hanya terfokus untuk menghujat, mengutuk dan marah-marah pada para teroris. sementara aparat juga hanya sibuk mengejar Nurdin dan teman-temannya saja tanpa mempelajari pola perekrutan mereka. maka sepertinya kita masih terus harus bersabar untuk menanti terorisme hilang dari bumi Indonesia.

beberapa artikel untuk bahan bacaan:
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/08/14/17462653/pemerintah.perlu.pahami.pola.rekrutmen.teroris

Tidak ada komentar:

Posting Komentar