Kamis, 13 Agustus 2009

sisi manusiawi dalam menertibkan PKL

Di antara miskinnya stok pemimpin di tingkat nasional, karena sejak reformasi tahun 98, yang muncul di pentas nasional adalah wajah-wajah yang seringkali kita sebut dengan 4L ( Lu Lagi Lu Lagi), maka seiring dengan era otonomi daerah ini, jika kita bersedia untuk melihat potensi kepemimpinan lokal yang ada, terbukti banyakh memunculkan talenta-talenta baik, muda, kreatif, dan tahu benar cara memikat hati rakyat. Mereka tidak hanya berasal dari birokrasi, tapi juga datang dari kalangan pengusaha atau pendidik. Mereka lahirkan kejutan yang asyik. Satu yang membanggakan: mereka tidak terkena virus korupsi.

banyak para pemimpin lokal ini yang mampu mengedepankan sisi-sisi budaya dan manusiawi dalam menghadapi sebuah persoalan maupun dalam membuat terobosan dan program-program yang dijalankannya. satu contoh sederhana dalam penanganan PKL (pedagang kali lima), sangat sering kita baca di media cetak atau kita lihat di media elektronik berbagai pemberitaan tentang "penertiban", yang sebenarnya adalah bahasa lain dari penggusuran terhadap para pedagang kali lima itu, yang sebenarnya mereka juga dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakat, terbukti mereka banyak yang sudah lama menjadi pedagang kali lima dan mempunyai banyak pelanggan. artinya alasan yang sering diajukan oleh para pemimpin yang memerintahkan penggusuran bahwa mereka mengganggu ketertiban sehingga harus di"tertibkan" adalah hanya mengada-ngada, lain soal kalau yang dilakukan bukan "penertiban" namun benar-benar penertiban, sebagaimana yang dilakukan oleh dua orang walikota di Solo dan Jogja, yang betul-betul melakukan penertiban dengan pendekatan budaya dan manusiawi dan bukan "penertiban" sebagaimana yangs sering dilakukan oleh para penguasa lokal yang lain.

1. di Solo

Sebanyak 819 PKL Banjarsari berhasil dipindahkan ke Pasar Klitikan Notoharjo yang dibangun dengan anggaran sebesar Rp 9,8 miliar. "Mereka (PKL) kami gratiskan masuk pasar yang baru hanya membayar retribusi Rp 2.500," kata walikota Solo.

2. di Jogja

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian Kota Yogyakarta Heru Pria Warjaka mengatakan, di Yogyakarta PKL di sejumlah lokasi juga telah dipindahkan ke Pasar Klitikan, Sriwedani, dan Pasar Sayur. "Sama seperti di Kota Solo, kunci keberhasilan pemindahan itu adalah pendekatan sosial. Jadi, tidak dengan penggusuran paksa memakai petugas Satpol PP," katanya

demikian satu contoh sisi pendekatan manusiawi yang dilakukan oleh dua figur pemimpin lokal yang tumbuh dalam era otonomi daerah ini, yang sebenarnya bisa dicontoh oleh siapapun yang juga mengemban amanah sebagai pemimpin baik di pusat maupun di daerah, betapa mereka punya tanggung jawab untuk membuat rakyat, termasuk para pedagang kali lima, semakin sejahtera kehidupannya.

artikel sumber :

1.Pindahkan PKL, Walikota Butuh 54 Kali Makan, lengkapnya baca : http://bisnis.vivanews.com/news/read/82653-pindahkan_pkl__walikota_butuh_54_kali_makan

2. Tata PKL Jangan Pakai Kekerasan, lengkapnya baca

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/03/02/1754587/tata.pkl.jangan.pakai.kekerasan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar