Sabtu, 10 Oktober 2009

ketika politik kita semakin monolitik...

ketua MPR akhirnya bener-benar jatuh ke tangan TK, yang secara de fakto adalah penguasa PDIP, kemudian munas PG akhirnya memilih ARB sebagai bos barunya menggantikan JK.

secara normatif tidak ada yang masalah apapun dengan dua peristiwa di atas, keduanya adalah proses yang wajar saja, yang satu wajar saja seorang anggota DPR/MPR terpilih jadi ketua MPR, yang satu adalah wajar ketika seorang kandidat ketua terpilih dalam pemilihan ketua.

mengapa kemudian kita menjadi tertarik untuk melihat kedua peristiwa itulah, adalah karena sebuah alasan yang sederhana saja, kedua peristiwa itu akan membawa sebuah konsekuensi hilangnya keseimbangan politik di bumi nusantara tercinta ini.

semua dari kita sangat tahu bahwa PDIP adalah partai yang mengusung mega sebagai penantang SBY No dalam pilpres tempo hari, sebagaimana PG adalah pengusung Jk yang juga ikut jadi penantang SBY. nah karena posisi kedua partai itu sebagai partai non koalisi cikeas itulah maka banyak pihak menggadang-gadang keduanya menjadi partai oposisi semala masa pemerintahan SBY 5 tahun ke depan.

namun dengan terpilihnya TK sebagai ketua MPR yang semua juga mafhum karena kompromi dan pendekatan atau istilah jawa-nya karena gedhek anthuk dengan PD, yang juga diamini oleh PG maka semua juga tahu bahwa ini adalah upaya meredam dan mencegah agar PDIP tidak menjadi partai oposisi. hal yang sama juga berlaku dengan PG, yang kita tahu bahwa polaritas yang terjadi baik sebelum maupun selama munas dalah antara kubu pro pemerintah yang mengusung ARB dan kubu yang pro oposisi yang mengusung SP. dan kita tahu bahwa pada akhirnya ARB yang pro pemerintah lah yang menang. dan menjadi semakin terang-benderanglah manakala pasca terpilihnya ARB menjadi bos PG, ia tidak kemudian bersilaturahmi dengan para sesepuh PG untuk meminta masukan dan saran bagi kemajuan PG ke depan, namun justru malah sowan ke cikeas.

benci tapi rindu dan kau datang dan pergi sesuka hatimu, menurut TS menjadi semacam sindiran bagi kedua partai kuning dan merah itu tampaknya memang menggambarkan situasi hubungan politik ketiga partai tersebut, merah,kuning,biru yang secara alamiah adalah 3 warna dasar(primer) yang ada, maka tidak heran ketiga warna itulah yang menjadi warna dominan dalam percaturan politik saat ini, dan karena ketiganya semakin mendekat satu sama lain, maka guyonan bahwa bisa jadi akan tercipta Partai Perjuangan Karya Demokrat, meski hanya guyonan, menunjukkan bahwa ketiga partai ini akan menjadi semakin sulit dibedakan satu sama lain, dan menjadi semakin sulit dipisahkan.

dan yang justru merisaukan adalah ketika partrai merah dan kuning betul-betul masuk dalam kabinet yang akan diumumkan pasca 21 oktober mendatang, maka tuntas sudah harapan adanya keseimbangan politik di negeri ini, dan paduan suara di senayan niscaya akan semakin sering kita dengar.

dan ketika itu semua terjadi, maka ibarat bom waktu saja, tinggal kapan meletusnya, Wallahu alam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar