Senin, 14 September 2009

mensucikan harta....

dalam ajaran Islam, terdapat tiang-tiang utama bangunan agama islam yang dikenal dengan 5 rukun Islam, Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dan Haji.

dalam kitab suci Al Quran dapat kita jumpai bahwa setiap perintah untuk mendirikan Sholat selalu disertai dengan perintah untuk menunaukan Zakat.

ini menunjukkan betapa sesungguhnya ajaran Islam bukan semata ajaran yang mengajarkan egoisme hubungan antara seorang makhluk dengan Tuhan_Nya semata, namun ajaran yang mengajarkan betapa harus ada keseimbangan antara hubungan antara seorang makhluk dengan Tuhan serta hubungan antara seorang makhluk dengan makhluk yang lain. sebuah ajaran yang lazim dikenal dengan sebutan hablum minallah dan hablum minannas.sehingga tidak sempurnalah iman seseorang tanpa disertai dengan amal sholeh yang dia lakukan.

di bulan Ramadhan inilah kemudian kita juga senantiasa diingatkan betapa pentinganya kita menggali kepekaan dan kepedulian kita terhadap sesama. oleh karena makna yang paling dangkal sekalipun ketika kita menggali makna puasa adalah betapa kita dituntut untuk merasakan betapa beratnya tidak makan dan tidak minum yang selama sehari itu, agar kita bisa merasakan bagaimana lapar dan dahaganya para fakir dan miskin yang berhari-hari tidak makan dan minum.

Ramadhan adalah sebuah masa untuk kita menggali dan menemukan sifat-sifat kemanusiaan kita yang kemudian akan kita kembangkan dan kita terjemahkan dalam perbuatan nyata kita kepada sesama selepas Ramadhan.

salah satu bentuk ajaran yang senantiasa populer di bulan Ramadhan adalah Zakat, baik yang zakat fitrah maupun zakat mal. mensucikan harta, demikianlah konsep tentang zakat ini sesungguhnya, karena dalam ajaran Islam, setiap harta yang kita peroleh dengan cara yang halal, maka ada hak kaum miskin di dalam sebagian harta iotu yang harus ditunaikan dan diserahkan kepada meraka agar harta kita menjadi harta yang barakah. hal ini tetntu saja sebuah pengajaran yang luar biasa tentang makna kesetiakawanan sosial dan kemanusiaan.

jadi kalau sekarang ini ada istilah CSR bagi perusahaan-perusahaan, maka sesungguhnya inti dari CSR itu bisa kita temukan juga dalam zakat. hanya memang kita saksikan betapa kesadaran untuk mengeluarkan zakat itu tampak masih kurang di negeri ini, dan bahkan ada juga yang mau melaksanakan lebih terkesan “mencari popularitas” semata. karena bukankah sebenarnya untuk membayarkan zaklat itu sudah ada berbagai macam lembaga amil dan zakat yang sudah diakui kredibilitasnya, namun kita masih sering saksikan orang-orang tertentu lebih suka menyalurkan zakatnya sendiri dengan megumpulkan ribuan bahkan puluhan ribu orang dalam satu tempat yang bisa mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan sebagaimana tragedi zakat beberapa tahun yang lalu di jawa timur.

padahal sebenarnya kalau saja zakat mal itu tidak dibayarkan hanya pada bulan Ramadhan saja, karena sesungguhnya memang perintahnya adalah dibayarkan setiap setahun sekali, yang artinya tidak harus di bulan Ramadhan. dan pembayaran zakat itu dilakukan lewat lembaga amil zakat yang kredibel, maka penanganan dan penyaluran zakat bisa dikelola dengan lebih baik, tidak semata dibagikan dalam bentuk barang atau uang yang bersifat sekali habis semata, namun bisa juga disalurkan dengan bentuk modal usaha dengan terlebih dahulu ada pelatihan ketrampilan dan sebagaimananya, maka sesungguhnya itu akan lebih baik dan bermanfaat jangka panjang bagi para penerima zakat, dan juga pemberi zakat sesungguhnya.

Senin, 07 September 2009

caleg DPR RI 2009-2014 PAN Terpilih

DAFTAR CALEG TERPILIH DARI PAN SESUAI HASIL KEPUTUSAN KPU YANG DIBACAKAN 3 SEPTEMBER 2009


DAFTAR CALEG DPR RI 2009-2014 TERPILIH PARTAI AMANAT NASIONAL

NO.

DAERAH PEMILIHAN

NAMA CALON TERPILIH

1

NANGGROE ACEH DARUSSALAM I

AZWAR ABU BAKAR

2

SUMATERA UTARA I

IBRAHIM SAKTY BATUBARA

3

SUMATERA UTARA II

YAHDIL ABDI HARAHAP, SH, MH

4

SUMATERA UTARA III

H. NASRIL BAHAR, SE

5

SUMATERA BARAT I

M. ICHLAS EL QUDSI, SSI, M.Si

6

SUMATERA BARAT II

TASLIM, S.Si

7

RIAU I

H. ASMAN ABNUR, SE. MSI

8

SUMATERA SELATAN II

HANNA GAYATRI,SH

9

BENGKULU

HJ. DEWI CORYATI, MSI

10

LAMPUNG I

H. ZULKIFLI HASAN, SE, MM

11

LAMPUNG II

IR. ALIMIN ABDULLAH

12

JAMBI

RATU MUNAWARAH ZULKIFLI

13

H. A. BAKRI HM, SE

14

DKI JAKARTA I

H. ANDI ANZHAR CAKRA WIJAYA

15

BANTEN II

DRS. H. RUSLI RIDWAN MSI

16

JAWA BARAT IX

PRIMUS YUSTISIO

17

JAWA BARAT X

Ir. CHANDRA TIRTA WIJAYA

18

JAWA BARAT XI

ERI PURNOMO HADI *

19

JAWA TENGAH II

H. NASRULLAH, S.Ip

20

JAWA TENGAH IV

ABDUL ROZAQ RAIS

21

JAWA TENGAH V

Dr. MARWOTO MITROHARDJONO, SE, MM

22

JAWA TENGAH VI

Ir. H. TJATUR SAPTO EDY, MT

23

JAWA TENGAH VII

Ir. TAUFIK KURNIAWAN, MM

24

JAWA TENGAH VIII

AHMAD MUMTAZ RAIS, SE

25

JAWA TENGAH IX

Ir. H. TEGUH JUWARNO, M.Si

26

JAWA TENGAH X

Drs. ABDUL HAKAM NAJA, M.SI

27

D.I. YOGYAKARTA

H. TOTOK DARYANTO, SE

28

JAWA TIMUR I

Ir. SUNARTOYO

29

JAWA TIMUR VI

A. RISKI SADIG

30

JAWA TIMUR VII

Dra. MARDIANA INDRASWATI

31

JAWA TIMUR VIII

EKO HENDRO PURNOMO

32

JAWA TIMUR IX

MUHAMMAD NAJIB

33

JAWA TIMUR X

VIVA YOGA MAULADI, M.Si

34

JAWA TIMUR XI

DRS.H. ACH RUBAIE,SH,MH

35

KALIMANTAN BARAT

H. SUKIMAN, S. Pd. MM

36

KALIMANTAN TENGAH

HANG ALI SAPUTRA SYAH PAHAN

37

KALIMANTAN SELATAN I

Prof. Dr. ISMET AHMAD

38

NUSA TENGGARA BARAT

MUHAMMAD SYAFRUDIN, ST

39

NUSA TENGGARA TIMUR I

LAURENS BAHANG DAMA

40

SULAWESI SELATAN I

INDIRA CHUNDA THITA SYAHRUL, SE, MM

41

SULAWESI SELATAN II

A. TAUFAN TIRO, ST

42

SULAWESI SELATAN III

AMRAN, SE

43

SULAWESI TENGGARA

WA ODE NURHAYATI, S. Sos

44

SULAWESI UTARA

DRA. YASTI SOEPREDJO MOKOAGOW

45

SULAWESI BARAT

H. HENDRA S SINGKARRU, SE

* masih bermasalah karena yang bersangkutan belum mundur dari BUMN BPH MIGAS

untuk Dapil Papua masih ditunda pengumumannya.

(sumber KPU)

Selasa, 01 September 2009

tugas intelektual muslim

Untuk mewujukan cita islam sebagai rahmatan lil alamin, harus dimulai dengan dibangun masyarakat yang kaya akan pemikiran, ilmu pengetahuan dan kaya hati serta mempunyai wawasan yang luas. Untuk membangun sebuah masyarakat atau lingkup yang lebih luas (baca : Negara dan bahkan dunia), harus dimulai dari lingkup yang lebih kecil, yaitu dimulai dari keluarga, yang berkembang pada masyarakat sekitar dan pada gilirannya berlanjut pada masyarakat yang lebih luas, demikian sterusnya berlanjut ke linngkup yang lebih besar lagi yaitu Negara, yang jika dilanjutkan terus maka tercapailah pada titik terluas masyarakay, yaitu dunia. Namun semua akan berjalan lancar jika dimulai dari membangun diri sendiri. Jika ingin membangun bangsa, bangunlah jiwanya, kata Indonesia Raya kita, ya bangunlah dulu jiwanya, baru bangun badannya, untuk Indonesia Raya. Dan jika Indonesia Raya betul-betul telah dibangun jiwa dan badannya, maka tentu tentu bisa menyebarkan kemajuan masyarakatnya ke seputar Asia Tenggara, dan tidak justru hanya "dikuya-kuya" seperti sekarang ini oleh Malaysia ataupun oleh Singapura.


Agenda pembangunan pemikiran masyarakat tersebut tak lain dan tak bukan adalah kewajiban intelektual muslim. Kaum intelektual sebagaimana yang telah menjadi kesepakatan umum yang berkembang dalam masyarakat merupakan suatu golongan yang mempunyai peranan penting dalam proses transformasi sosial, ia harus mempunyai keberpihakan kepada masyarakat sekitarnya, terutama kaum dhu'afa secara sosial politik dan ekonomi sekaligus memperjuangkan aspirasi mereka. Seorang intelektual muslim harus mempunyai integritas, pengabdian serta komitmen yang jelas dalam membangun peradaban umat dan bangsanya. Apabila seorang intelektual tidak mempunyai concern terhadap misi dan komitmen ini, maka ia bukanlah seorang intelektual, melainkan hanyalah seorang peneliti, akademisi atau politisi. Dan oleh karena tugas itulah maka seorang intelektual adalah sosok yang dekat dengan sumber-sumber pengetahuan sekaligus dekat dan bersinggungan langsung dengan masyarakat. Seorang intelektual yang oleh karena tugasnya sebagai seorang pelaku mandate pembangunan masyarakat, maka bukanlah ia yang memiliki segudang teori dan pengetahuan, namun tidak pernah bersinggungan dengan masyarakat, dengan kalimat yang popular, seorang intelektual, bukanlah seorang yang hanya duduk di menara gading yang tidak terjangkau oleh masyarakat di sekitarnya.
Dalam membangun sebuah masyarakat, seorang intelektual harus turun langsung bergaul dengan masyarakat yang dibangun tersebut. Tugas kaum intelektual tidak semata menganyam kata, menelurkan gagasan, tetapi juga harus berupaya mengubah realitas yang timpang, mengubah kata- kata menjadi kenyataan.

Dalam pandangan seorang cendikiawan muslim, Kuntowijoyo, kaum intelektual muslim paling tidak harus bisa berperan dalam dua hal: Pertama, dalam hal manajemen yang rasional; dan Kedua, membantu umat dalam perang gagasan, intellectual war. "Kita sedang menghadapi ‘perang', ghazwul fikr atau intellectual aggression. ‘Musuh' mereka ialah materialisme dan sekularisme dunia modern. Tugas intelektual Muslim ialah berjihad intelektual," demikian Kunto pernah menganjurkan. Menurutnya, seorang intelektual adalah pewaris Nabi. Karenanya seorang intelektual Muslim tidak boleh berpangku tangan, sementara dunia akan tenggelam. Sementara Amien Rais, mengenalkan konsep Tauhid Sosial, yang melalui Tauhid Sosial tersebut, umat Islam dituntut untuk mempraktikkan nilai-nilai Tauhid ke dalam realitas sosial secara benar. Seorang muslim tidak cukup hanya menjalankan tauhid dengan meyakini bahwa Allah itu esa, tetapi juga harus peka terhadap urusan kemanusiaan, sehingga muncul keseimbangan antara ibadah dan perilaku sosial. Hal inilah yang disebut sebagai amal shalih. Dengan konsep tauhid sosial ini ummat islam diingatkan bahwa di dalam Al Quran, setiap kali disebut tentang orang-orang yang beriman, pasti senantiasa dibarengi dengan penyebutan yang beramal sholeh, artinya memang, Islam adalah sebuah agama yang tidak hanya menekankan hubungan individu dengan TuhanNya saja, namun juga harus diimbangin juga dengan hubungannya dengan manusia dan alam sekitarnya. Itulah juga kita bisa membaca setiap perintah untuk mendirikan Sholat dalam ayat-ayat al Quran, pasti juga selalu diiringi perintah untuk menunaikan zakat. Dengan konsep keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia yang lain inilah, sesungguhnya peradaban Islam itu dibangun. Bahwa orang ber Islam tidak hanya berarti dia punya kewajiban untuk berhubungan dengan Tuhan tapi sekaligus adalah kewajiban unutk membangun hubungan dengan masyarakat. Bukankah tidak termasuk golongan Ummatku kata Rasulullah seorang yang perutnya kekenyangan dan kelebihan makanan, sementara tetangganya ada tidak bisa tidur karena kelaparan.