kinerja pemerintahan suatu negeri, selain akan ditentukan oleh figur-figur yang duduk di kursi kabinet, wajah pemerintahan juga tidak bisa dilepaskan dari gaya kepemimpinan presiden atau perdana menterinya. Dan dalam konteks Indonesia, maka figur dan karakter presiden akan sangat mewarnai gerak langkah kabinet yang dipimpinnya, nah jika kepemimpinan presiden tetap lembek, bisa dipastikan roda pemerintahan juga akan berjalan lambat. Namun, jika kepala pemerintahan sigap dan tangkas, bisa dipastikan gerak pemerintahan juga cepat.
5 tahun ini sebenarnya banyak kalangan menilai SBY-JK sebagai duet yang sempurna. Satu sama lain saling mengisi. Dalam konteks ini, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif mengibaratkan duet presiden dan wakil presiden sebagai perpaduan antara gas dan rem, hanya saja di era SBY-JK justru JK yang menjadi ‘gas’ di pemerintahan, bukan Presiden SBY. “Di tahun 2004 ada yang menarik, karena ‘gas’-nya ada di JK dan ‘rem’-nya ada di SBY,” kata Buya Maarif di Jakarta.
sementara jika kita merunut dalam sejarah negeri ini, duet Soekarno-Hatta, maka Soekarno adalah gas-nya dan Hatta-lah yang bertindak sebagai rem-nya, itulah maka duet dwi tunggal itu begitu kompak membawa negeri kita dalam posisi yang stabil, karena ada gas dan ada rem, namun setelah Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden 1956, maka tinggalnya gas sendirian tanpa rem, sehingga akhirnya kita terjatuh dalam kubangan ketidakstabilan politik yang berujung pada tragedi berdarah G 30 S yang akhirnya membawa kejatuhan Soekarno.
pada era Soeharto, sampai Megawati, fenomena gas dan rem tidaklah kentara lagi dalam pusaran kekuasaan politik di negeri ini, apalagi di masa Soeharto selama orde baru, praktis kekuasaan terletak di satu tangan saja, dan fungsi wakil presiden hanya semata-mata hanya sebagai ban serep saja yang tidak punya kekuasaan dan hanya menjadi pelengkap semata.
pada masa Habiebie, fenomena gas dan rem juga tidak ada karena Habibie tidak punya wakil presiden, meskipun sebenarnya Habibie cukup berpotensi sebagai gas dengan berbagai kebijakan yang cukup “maju” semisal kebijakan untuk jajak pendapat di timtim.
pada masa Gus Dur, yang terjadi hanyalah gonjang-ganjing semata karena berbagai kontroversi akibat pernyataan-pernyataan yang dilontarkan, yang akhirnya semua kontroversi itu diakhiri dengan pelengseran dirinya sebagai presiden dengan mengambil pintu masuk kasus bruneigate dan bullogate, yang tidak kita ketahui endingnya sampai sekarang kedua kasus itu.
pada masa Megawati, praktis tidak ada juga fenomena gas dan rem, duetnya bersama Hamzah Haz adem ayem saja dalam memimpin negeri ini, nyaris tanpa terobosan yang berarti, itulah yang berakibat dirinya tidak terpilih lagi pada pemilu 2004, pun juga 2009 ini.
duet SBY_JK adalah fenomena yang menarik, karena kebalikan dari duet Soekarno_Hatta yang wakil presidennya berfungsi laksana rem, pada masa duet SBY_Jk ini jsutru wakil presiden lah yang bertindak sebagai gas, dan presiden yang malah bertindak sebagai rem.
kini, setelah kepemimpinan nasional beralih pada duet SBY_NO, maka fenomena gas dan rem kembali hilang, karena duet ini disinyalir akan bertindak laksana rem semua, maka bisa jadi dalam masa kepemimpinan kali ini, duet ini akan adem ayem saja tanpa terobosan yang berarti, sebagaimana duet Mega_Hamzah. dan hal ini sudah dimulai dengan pola perekrutan kabinet yang lebih banyak diisi oleh kaum tua, yang tentu saja akan kurang progresif mengahadpi situasi global yang membutuhkan tangan-tangan muda yang sigap dan tangkas dalam bertindak….
akhirnya selamat deh….
moga tidak dalam-dalam amat menginjak rem-nya….