Selasa, 20 Oktober 2009

duet rem itu mulai hari ini memimpin negeri…

kinerja pemerintahan suatu negeri, selain akan ditentukan oleh figur-figur yang duduk di kursi kabinet, wajah pemerintahan juga tidak bisa dilepaskan dari gaya kepemimpinan presiden atau perdana menterinya. Dan dalam konteks Indonesia, maka figur dan karakter presiden akan sangat mewarnai gerak langkah kabinet yang dipimpinnya, nah jika kepemimpinan presiden tetap lembek, bisa dipastikan roda pemerintahan juga akan berjalan lambat. Namun, jika kepala pemerintahan sigap dan tangkas, bisa dipastikan gerak pemerintahan juga cepat.

5 tahun ini sebenarnya banyak kalangan menilai SBY-JK sebagai duet yang sempurna. Satu sama lain saling mengisi. Dalam konteks ini, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif mengibaratkan duet presiden dan wakil presiden sebagai perpaduan antara gas dan rem, hanya saja di era SBY-JK justru JK yang menjadi ‘gas’ di pemerintahan, bukan Presiden SBY. “Di tahun 2004 ada yang menarik, karena ‘gas’-nya ada di JK dan ‘rem’-nya ada di SBY,” kata Buya Maarif di Jakarta.

sementara jika kita merunut dalam sejarah negeri ini, duet Soekarno-Hatta, maka Soekarno adalah gas-nya dan Hatta-lah yang bertindak sebagai rem-nya, itulah maka duet dwi tunggal itu begitu kompak membawa negeri kita dalam posisi yang stabil, karena ada gas dan ada rem, namun setelah Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden 1956, maka tinggalnya gas sendirian tanpa rem, sehingga akhirnya kita terjatuh dalam kubangan ketidakstabilan politik yang berujung pada tragedi berdarah G 30 S yang akhirnya membawa kejatuhan Soekarno.

pada era Soeharto, sampai Megawati, fenomena gas dan rem tidaklah kentara lagi dalam pusaran kekuasaan politik di negeri ini, apalagi di masa Soeharto selama orde baru, praktis kekuasaan terletak di satu tangan saja, dan fungsi wakil presiden hanya semata-mata hanya sebagai ban serep saja yang tidak punya kekuasaan dan hanya menjadi pelengkap semata.

pada masa Habiebie, fenomena gas dan rem juga tidak ada karena Habibie tidak punya wakil presiden, meskipun sebenarnya Habibie cukup berpotensi sebagai gas dengan berbagai kebijakan yang cukup “maju” semisal kebijakan untuk jajak pendapat di timtim.

pada masa Gus Dur, yang terjadi hanyalah gonjang-ganjing semata karena berbagai kontroversi akibat pernyataan-pernyataan yang dilontarkan, yang akhirnya semua kontroversi itu diakhiri dengan pelengseran dirinya sebagai presiden dengan mengambil pintu masuk kasus bruneigate dan bullogate, yang tidak kita ketahui endingnya sampai sekarang kedua kasus itu.

pada masa Megawati, praktis tidak ada juga fenomena gas dan rem, duetnya bersama Hamzah Haz adem ayem saja dalam memimpin negeri ini, nyaris tanpa terobosan yang berarti, itulah yang berakibat dirinya tidak terpilih lagi pada pemilu 2004, pun juga 2009 ini.

duet SBY_JK adalah fenomena yang menarik, karena kebalikan dari duet Soekarno_Hatta yang wakil presidennya berfungsi laksana rem, pada masa duet SBY_Jk ini jsutru wakil presiden lah yang bertindak sebagai gas, dan presiden yang malah bertindak sebagai rem.

kini, setelah kepemimpinan nasional beralih pada duet SBY_NO, maka fenomena gas dan rem kembali hilang, karena duet ini disinyalir akan bertindak laksana rem semua, maka bisa jadi dalam masa kepemimpinan kali ini, duet ini akan adem ayem saja tanpa terobosan yang berarti, sebagaimana duet Mega_Hamzah. dan hal ini sudah dimulai dengan pola perekrutan kabinet yang lebih banyak diisi oleh kaum tua, yang tentu saja akan kurang progresif mengahadpi situasi global yang membutuhkan tangan-tangan muda yang sigap dan tangkas dalam bertindak….

akhirnya selamat deh….

moga tidak dalam-dalam amat menginjak rem-nya….


Minggu, 18 Oktober 2009

kursi ketua MPR lepas, kursi menko pun tak ter raih oleh PKS...

hari ini sudah 16 orang yang mengikuti audisi calon menteri kabinet KIB II,

1. Djoko Suyanto (Menko Polhukam)
2. Hatta Rajasa (Menko Perekonomian)
3. Agung Laksono (Menko Kesra)
4. Sudi Silalahi (Mensesneg)
5. Suryadharma Ali
6. Sri Mulyani (Menteri Keuangan)
7. Gamawan Fauzi (Mendagri)
8. Mari Pangestu (Manteri Perdagangan)
9. Jero Wacik (Menbudpar)
10. M Nuh (Mendiknas)
11. Syarif Hasan (Menakertrans/BUMN)
12. Tifatul Sembiring (Menkominfo)
13. Sutanto (Menkum HAM/ESDM)
14. Salim Segaf al Jufrie (Mensos)
15. Muhaimin Iskandar (Menneg PDT)
16. Andi Mallarangeng (Menpora)

dari deretan nama-nama di atas dan prediksi kursi yang akan dijabatnya, maka tampaknya PKS adalah partai yang cukup tertohok dalam posisi di koalisi cikeas ini, bayangkan dalam periode 2004-2009, mereka mampu mendudukkan kader mereka HNW menjadi ketua MPR, yang pada kali ini ternyata mereka dikalahkan dengan kesepakatan belakang layar antara PDIP dan Demokrat, sehingga kursi ketua MPR lepas dari tangan PKS dan kini diduduki oleh TK dari PDIP.

setelah kursi ketua MPR terlepas dari tangan, maka para petinggi PKS mencoba mendekati sby agar mendapatkan kursi menko kesra yang rencananya akan diserahkan pada HNW.

" Tifatul justru memperjuangkan agar Hidayat Nurwahid menjadi Menko Kesra. “Pak Hidayat akan kita carikan posisi yang terhormat. Sebagai Menkokesra bolehlah,” tegas Tifatul. "

namun tampaknya harapan dan usaha dari PKS itu juga mengalami kegagalan, karena tampaknya kursi menko kesra justru akan diberikan oleh sby pada tokoh Golkar, AL, yang pada pemilihan presiden yang baru lalu, seperti kita tahu Golkar bukan lah bagian dari koalisi cikeas.

maka tampaknya memang PKS betul-betul bakalan gigit jari kali ini, karena dalam koalisi cikeas, awalnya mereka adalah peraih kursi terbanyak kedua setelah Demokrat, sehingga mereka selalu menuntut untuk mendapat yang lebih dari anggota koalisi yang lain, namun seiring masuknya Golkar dalam barisan koalisi, tampaknya keinginan dan tuntutan dari PKS itu akan tidak kesampaian, terbukti kursi ketua MPR sudah terlepas dari tangan mereka, kini kursi menko kesra yang mereka gadang-gadang untuk HNW pun bakalan lepas dari tangan mereka.

" Dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dipastikan ada empat kursi menteri. Jatah empat kursi menteri tersebut, ternyata sudah tertuang dalam kontrak politik PKS dengan SBY saat maju dalam Pilpres mendatang. Jatah empat menteri tersebut antara lain akan ditempati oleh Presiden PKS Tifatul Sembiring sebagai Menkominfo, mantan Presiden PKS Hidayat Nurwahid yang akan diplot menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra)."

maka jika gembar-gembor bahwa mereka bakal dapat 4 kursi yang kita dengar sebelum ini ternyata juga tidak terbukti, kita tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh PKS, akankah mereka ngambek dan keluar dari koalisi?

Sabtu, 10 Oktober 2009

ketika politik kita semakin monolitik...

ketua MPR akhirnya bener-benar jatuh ke tangan TK, yang secara de fakto adalah penguasa PDIP, kemudian munas PG akhirnya memilih ARB sebagai bos barunya menggantikan JK.

secara normatif tidak ada yang masalah apapun dengan dua peristiwa di atas, keduanya adalah proses yang wajar saja, yang satu wajar saja seorang anggota DPR/MPR terpilih jadi ketua MPR, yang satu adalah wajar ketika seorang kandidat ketua terpilih dalam pemilihan ketua.

mengapa kemudian kita menjadi tertarik untuk melihat kedua peristiwa itulah, adalah karena sebuah alasan yang sederhana saja, kedua peristiwa itu akan membawa sebuah konsekuensi hilangnya keseimbangan politik di bumi nusantara tercinta ini.

semua dari kita sangat tahu bahwa PDIP adalah partai yang mengusung mega sebagai penantang SBY No dalam pilpres tempo hari, sebagaimana PG adalah pengusung Jk yang juga ikut jadi penantang SBY. nah karena posisi kedua partai itu sebagai partai non koalisi cikeas itulah maka banyak pihak menggadang-gadang keduanya menjadi partai oposisi semala masa pemerintahan SBY 5 tahun ke depan.

namun dengan terpilihnya TK sebagai ketua MPR yang semua juga mafhum karena kompromi dan pendekatan atau istilah jawa-nya karena gedhek anthuk dengan PD, yang juga diamini oleh PG maka semua juga tahu bahwa ini adalah upaya meredam dan mencegah agar PDIP tidak menjadi partai oposisi. hal yang sama juga berlaku dengan PG, yang kita tahu bahwa polaritas yang terjadi baik sebelum maupun selama munas dalah antara kubu pro pemerintah yang mengusung ARB dan kubu yang pro oposisi yang mengusung SP. dan kita tahu bahwa pada akhirnya ARB yang pro pemerintah lah yang menang. dan menjadi semakin terang-benderanglah manakala pasca terpilihnya ARB menjadi bos PG, ia tidak kemudian bersilaturahmi dengan para sesepuh PG untuk meminta masukan dan saran bagi kemajuan PG ke depan, namun justru malah sowan ke cikeas.

benci tapi rindu dan kau datang dan pergi sesuka hatimu, menurut TS menjadi semacam sindiran bagi kedua partai kuning dan merah itu tampaknya memang menggambarkan situasi hubungan politik ketiga partai tersebut, merah,kuning,biru yang secara alamiah adalah 3 warna dasar(primer) yang ada, maka tidak heran ketiga warna itulah yang menjadi warna dominan dalam percaturan politik saat ini, dan karena ketiganya semakin mendekat satu sama lain, maka guyonan bahwa bisa jadi akan tercipta Partai Perjuangan Karya Demokrat, meski hanya guyonan, menunjukkan bahwa ketiga partai ini akan menjadi semakin sulit dibedakan satu sama lain, dan menjadi semakin sulit dipisahkan.

dan yang justru merisaukan adalah ketika partrai merah dan kuning betul-betul masuk dalam kabinet yang akan diumumkan pasca 21 oktober mendatang, maka tuntas sudah harapan adanya keseimbangan politik di negeri ini, dan paduan suara di senayan niscaya akan semakin sering kita dengar.

dan ketika itu semua terjadi, maka ibarat bom waktu saja, tinggal kapan meletusnya, Wallahu alam...