Sabtu, 06 Februari 2010

Kerbau, Spanduk, Demo, Provokator

konon sang penguasa negeri ini sedang resah hatinya karena tak membayangkan betapa di masa kekuasannya yang kedua, yang masih seumur jagung ini bakal mengalami berbagai macam rintangan baik dari para lawan politknya maupun dari anak-anak nakal yang sangat suka merecoki dia dan para punggawanya.

ketika mengomentari aksi turun ke jalan berkaitan dengan hari keseratus dia berkuasa kembali di negeri ini, konon dia tampak kurang begitu suka dengan cara-cara yang dipakai para pengritiknya yang dinilainya tidak pantas di negeri Pancasila ini, sehingga ketika sedang memimpin pertemuan dengan para gubernur se Indonesia yang bertema mengenai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, maka bukan hanya rencana-rencana strategis pembangunan yang dibahasnya bersama para gubernur itu agar kesejahteraan rakyat semakin cepat terlaksana yang kemduian disampaikannya ke media agar diketahui publik namun justru lebih soal curhat soal, namun jsutru soal kerbau yang dibawa seorang pendemo yang dia persoalkan dan dia lontarkan kepada media dan diketahaui oleh publik, dan sama sekali bukan soal mengapa demonstran itu membawa kerbau yang dia analisa, tapi soal dirinya sendiri yang dia curhatkan kepada publi

karena itulah maka saya tiba-tiba inginjuga menulis sedikit soal kerbau

hari-hari menjelang seratus hari masa pemerintahan sang penguasa, kita dapat saksikan di pojok-pojok jalan di seantero ibu kota bertebaran spanduk yang nyaris seragam yang menghimbau agar warga masyarakat tidak terpancing dengan isu-isu para provokator yang berkeinginan menghancurkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa ini.

spanduk yang berisikan kalimat yang kesannya seperti tidak up to date lagi, karena kalimat-kalimat seperti itu sudah sering dimunculkan sejak sepuluh tahun terakhir.

dan herannya meski jelas-jelas bahwa pembuat spanduk itu menunjuk adanya provokatror yang tidak bertanggung jawab, namun tidak pernah sekalipun pembuat spanduk-spanduk itu sejak dahulu menunjukkan kepada warga masyarakat tentang siapa provokator itu, sehingga yang terjadi adalah ketika masyarakat diminta waspada dengan isu adanya para provokator yang tidak disebutkasn siapa saja provokator itu, maka sangat dimungkinkan akan timbul saling curiga diantara sesama anak bangsa ini karena saling mengira bahwa diantara mereka ada provokator yang tidak bertanggungjawab itu.

dan manakala sikap saling curiga itu timbul dan membesar maka di tengah situasi politk yang semakin memanas ini, sangat mudah bagi para pihak untuk memanfaatkan situasi saling curiga itu untuk menimbulkan chaos.

pertanyaannya adalah siapa yang bakal mendapatkan keuntungan dari situasi chaos yang timbul karena sikap saling curiga diantara anak bangsa ini, karena diawali oleh isu provokator itu?

berkaitan dengan isu provokator, chaos dan cerita soal kerbau, tiba-tiba saja saya teringat kisah Mas Karebet alias Joko Tingkir yang konon agar bisa diterima menjadi prajurit di Demak maka dia terlebih dahulu membuat ontran-ontran di alun-alun kraton Demak dengan cara membuat seekor kerbau mengamuk dan membuat onar di seputaran alun-alun, dan akhirnya dengan sukses Joko Tingkir sendirilah yang bisa mengatasi kekisruhan yang sebernarya dia buat sendiri itu dan karena dianggap berjasa maka dia diangkat menjadi prajurit di Demak.

berkaca dari cerita Joko Tingkir itulah, maka jika terjadi chaos karena bermula dari sikap saling curiga antar anak bangsa muncul karena adanya isu provokator yang sengaja disebar di seantero ibukota itu, maka pembuat isu provokator itulah yang bakal menikmati keuntungan dari chaos yang dia ciptakan itu

wallahu alam…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar