Kamis, 27 Mei 2010

Sri Mulyani capres 2014? sulit!!

Pasal 6A ayat 2 UUD 1945 yang telah diamandemen jelas-jelas berbunyi : “ Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum”

Maka jika kemudian hari-hari ini karena romantisme kesan didzolimi/dianiaya disematkan kepada sosok Sri Mulyani, yang terpaksa menyingkir dari pemerintahan karena terdesak oleh kartel politik negeri ini, yang dikuasai oleh partai-partai koalisi Cikeas, yang karena romantisme kesan dianiaya itu kemudian diangankan maju sebagai calon presiden di 2014, maka kini mungkin kita harus mulai berhitung, kira-kira partai apa yang akan menjadi kendaraan Sri Mulyani untuk maju di 2014?

Mungkin saja para pendukung, yang dengan penuh semangat mengajukan ide itu, apalagi dipantik dengan kata-kata Sri Mulyani yang bersayap : ” I’ll be back” bisa bilang, kalaupun partai-partai sekrang yang ada, yang telah mendzoliminya tidak mau mengajukan Sri Mulyani untuk maju sebagai calon presiden, toh mereka bisa mendirikan partai sendiri, meniru langkah SBY setelah gagal dalam pemilihan wakil presiden 2002 yang lalu kemudian mendirikan partai sendiri dan terbukti memenangkan kursi presiden di 2004 dengan partainya tersebut. Namun ternyata ide itu bisa jadi juga bakal pupus di tengah jalan, karena para elit partai yang ada saat ini sedang membincangkan ide untuk membuat aturan dalam undang-undang politik yang baru bahwa sebuah partai baru tidak langsung bisa mengikuti pemilu di 2014, sebagaimana tercermin dalam rapat Badan Legislasi (Baleg) DPR belum lama ini yang membahas soal revisi UU No 2/2008 tentang Partai Politik, muncul wacana bahwa parpol yang baru lahir tidak boleh menjadi peserta Pemilu 2014.

Dengan melihat hal itu, maka tampaknya akan sulit bagi para pengusung ide Sri Mulyani for RI 1 untuk bisa mewujudkan idenya tersebut. Sebab untuk sementara belum ada pintu masuk bagi Sri Mulyani bisa melaju dengan melihat konstelasi partai yang ada saat ini. Partai-partai koalisi Cieas saat ini tentu tidak akan mengusungnya karena justru koalisi inilah yang disebutnya dengan istilah “kartel politik” yang membuatnya terpaksa menyingkir dari panggung pemerintahan. Sementara jika dari barisan oposisi, tampaknya juga cukup sulit untuk menjadi pintu masuk karena citra neolib yang melekat/dilekatkan padanya jelas menjadi faktor terbesar penolakan kubu oposisi yang mengusung jargon kerakyatan untuk mencalonkannya.

Meskipun, banyak juga yang akan bilang, toh masih 4 tahun lagi, konstelasi politik bisa saja berubah. Justru karena masih 4 tahun lagi itulah, maka peluang akan semakin menipis, karena semua berkaitan dengan momentum, titik kepopuleran tertinggi Sri Mulyani ada di saat ini, sehingga peluang akan terpilih adalah manakala pemilihan diadakan saat ini, bukan 4 tahun mendatang. Apalagi tipikal masyarakat negeri yang mudah lupa, maka jika Sri Mulyani kemudan 4 tahun ke bank dunia, dan kembali ke negeri ini 4 tahun lagi, bisa dipastikan popularitasnya sudah tidak seperti hari-hari ini. Dan bisa jadi di 2014 sudah ada tokoh lain lagi yang mendapat momentum karena kesan didzolimi yang muncul, dan tokoh baru itulah yang akan muncul sebagai calon potensial untuk menang di 2014, sebagaimana SBY yang menang di 2004 karena kesan didzolimi oleh Mega.


Selasa, 25 Mei 2010

Kekalahan AM = Kekalahan FoxIndonesia

FoxIndonesia, nama konsultan politik yang dimiliki oleh malarangeng bersaudara itu sempat sedemikian moncer di blantika perpolitikan nasional pasca kemenangan fenomenal satu putaran pasangan sby-no tahun lalu, serta kemenangan fenomenal ibas di pemilu legislatif beberapa bulan sebelum pilpres tahun lalu.

Namun kini tuah konsultan politik itu ternyata sudah memudar, lihatlah dalam perhelatan kontestansi ketua umum partai demokrat beberapa hari yang lalu, yang secara gemilang dimenangkan oleh anas urbaningrum. Di perhelatan itu, FoxIndonesia, dukun modern itu benar-benar tak bertuah lagi, alih-alih memenangkan jagoannya, andi malarangeng, yang adalah kakak kandung sang empunya FoxIndonesia, yaitu rizal malarangeng dan choel malarangeng, tapi yang terjadi adalah sebaliknya andi malarangeng yang mereka usung gugur di babak pertama pertandingan.

Yang tersenyum tentu adalah denny ja, ichsan loulembah dan ipang wahid dari lingkaran survey Indonesia,folkindonesia dan fastcomm yang berada di belakang anas urbaningrum. Mereka secara meyakinkan telah mampu membalikkan situasi, dimana sebelum pertandingan dilaksanakan hampir semua pihak telah menempatkan andi malarangeng lah yang akan memenangkan pertandingan, sehingga bahkan dengan jumawa nya kubu andi mengusuung ide aklamasi dalam penentuan ketua umum saking yakinnya bahwa andi malarangeng lah yang bakal memenangi pertandinngan.

Tapi kelihaian trio konsultan politik di belakang anas urbaningrum ternyata sanggup mempecundangi grasah grusuhnya kerja-kerja FoxIndonesia yang jor-joran dalam serangan udara, sehingga seakan-akan pertandingan yang terjadi adalah semacam pilkada atau pilpres dimana masyarakatlah yang akan melakukan pemilihan. Padahal yang disasar sebenarnya hanya 531 suara pemilik suara di arena kongres partai demokrat itu. Di lain pihak kubu anas urbaningrum melalui fastcomm yang digawangi oleh ipang wahid tidak jor-joran dalam perang iklan, karena iklan bagi mereka hanya sekedar pelengkap semata, dan sekaligus sebagai semacam pembeda dengan kubu andi malarangeng, sehingga citra yang terbentuk adalah bahwa anas tidak menghambur-hamburkan uang yang pasti akan menimbulkan kecurigaan, sumbernya darimana sehingga bias jor-joran iklan.

Di sisi peran yang dimainkan oleh FoxIndonesia di kubu andi malarangeng dan trio lsi,fastcomm,Dn folkindonesia di kubu anas urbaningrum juga sangat berbeda, di kubu andi, sebagaimana sejak menangani ketua umum PAN SB beberapa tahun silam sampai menangani andi malarangeng, FoxIndonesia terlihat begitu dominan, dari a sampai z sehingga menimbulkan kejengkelan di kader-kader partai yang ditangani, sementara di anas urbaningrum, semua ada di kendali anas, konsultan betul-betul membantu sesuai porsi yang telah ditentukan oleh tim sukses anas sesuai arahan dari anas, hal itu juga diakui oleh denny ja, yang hanya menyampaikan ide dan gagasannya hanya di hadapan anas semata, dan anas yang ambil keputusan dari ide dan gagasan dari konsultannya itu.

Maka tidak heran jika pendekatan yang dilakukan oleh konsultan politik kubu andi akhirnya menimbulkan anti pati dari kalangan DPD dan DPC yang merasa tidak dilibatkan sama sekali oleh andi karena semua ditangani oleh FoxIndonesia yang dikomandoi oleh rizal malarangeng, yang notabene adalah salah seorang ketua dpp partai golkar, yang menelikung dari belakang koalisi cikeas dalam kasus bank century, sehingga meskipun di level puncak, sby dan ical sudah terlihat rujuk dan mesra kembali, namun di kalangan pengurus DPD dan DPC rasa sakit hati kepada golkar tentu masih tersimpan di dada mereka masing-masing, dan menempatkan rizal malarangeng, yang ketua dpp golkar di posisi yang menentukan dalam perebutan kursi ketua umum partai demokrat, adalah blunder besar yang tidak disadari oleh andi malarangeng. Dan terbukti, alih-alih mendapatkan dukungan 86% suara sebagaimana yang mereka klaim, merekaa hanya mendapatkan 82 suara (16%) dan gugur di babak pertama pertarungan itu.

Kamis, 20 Mei 2010

kebangkitan nasional? kapan?

Sejarah bangsa ini dipenuhi oleh ribuan bahkan jutaan pahlawan, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal oleh kita selaku penerus bangsa. Selama ratusan tahun, perlawanan terhadap bangsa-bangsa penjajah dilakukan dengan tanpa henti di seantero bumi nusantara kita tercinta, dengan satu tekad, mengusir penjajah dari ibu pertiwi.

Namun sejarah juga mencatat bahwa perlawanan yang dilakukan itu pada akhirnya kandas, karena dilakukan tanpa persatuan di antara para pejuang. Setelah menelaah kegagalan para pejuang yang masih bersifat kedaerahan itulah, para mahasiswa STOVIA di Jakarta, pada tanggal 20 Mei 1908 menggagas berdirinya sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Budi Utomo (BU). Organisasi inilah yang kemudian menjadi tonggak baru sifat dan cara perlawanan terhadap penjajah, dari yang bersifat kedaerahan menjadi bersifat kebangsaan, dari perjuangan fisik menjadi perjuangan diplomasi. Kemudian, setelah BU, secara bergelombang, bermunculan lah berbagai organisasi di seantero Indonesia yang punya satu tekad bersama, yaitu Indonesia merdeka. Hal inilah yang kemudian mendasari diperingatinya kelahiran BU (20 Mei), sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Kini, tak terasa, kita telah memasuki 102 tahun sejak ditetapkannya 20 Mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana dengan kondisi sekarang? Apakah kita telah nyata-nyata bangkit? Atau, bahkan menjadi kembali terpuruk seperti sebelum 20 Mei 1908?

Setelah kemerdekaan Indonesia, 17 agustus 1945, Presiden pertama kita, Ir Soekarno selalu mengingatkan pada seluruh anak bangsa tentang bahaya kolonialisme baru (penjajahan-red), atau yang beliau sebuat dengan istilah NEKOLIM. Kini, jika kita telaah kedaan kita sekarang ternyata apa yang ditengarai oleh beliau ternyata betul-betul menjadi kenyataan. Ternyata sekarang kita kembali terjajah oleh bangsa asing. Bedanya, kalau dulu penjajahan secara fisik, kini penjahan dilakukan secara ekonomi dan politik. Satu contoh, kita lihat saja betapa kekayaan alam kita, sebagian besar tidak kita kuasai sendiri, namun justru dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing. Kita seolah tidak punya kekuatan untuk menolak penguasaan atas sumber-sumber kekayaan kita itu. Maka tidak heran ketika harga BBM dinaikkan, timbul pertanyaan oleh sebagian masyarakat: "katanya kita itu penghasil minyak, tapi kok harga naik terus?" Ternyata jawabannya adalah,, karena sebagian besar minyak yang dihasilkan oleh bumi kita itu, justru dimiliki oleh pihak asing. PERTAMINA hanya menghasilkan 136 ribu barrel per hari, sementara ratusan ribu barrel lainnya dikuasai oleh perusahaan asing!!!

Kita tentu juga sering mendengar nama Exxon Mobile, Caltex, Shell, Freeport, Newmont. Sederetan nama itu adalah perusahaan asing yang menjalankan operasinya di negeri kita tercinta ini. Mereka lah yang mengeruk kekayaan alam kita, seperti minyak bumi, emas, dan kekayaan alam lainnya. Dari pengolahan kekayaan alam itu, kita hanya mendapat sedikit saja dari total keuntungannya. Sementara jumlah besar lainnya, dibawa ke negeri dimana perusahaan asing itu berasal. Dengan demikian, mereka lah sesungguhnya yang menguasai bumi kita, sementara kita sebagai tuan rumah hanya menjadi penonton saja selama ini

Jadi beda penjajahan yang dilakukan jaman kakek nenek kita dulu dengan sekarang adalah, jika dulu kita hanya dijajah oleh sebuah perusahaan, yaitu VOC, atau kumpeni, sekarang kita berada dalam penjajahan banyak sekali perusahaan asing. Mereka menguasai berbagai macam asset berharga bangsa kita, mulai dari bahan tambang kita, hutan kita, telekomunikasi kita, perbankan kita, dan sebentar lagi industri strategis kita seperti Krakatau Steel juga akan dikuasai oleh pihak asing. Kebijakan Negara yang disebut dengan PRIVATISASI (menjual badan usaha milik Negara kepada perusahaan swasta multinasional), adalah hal yang menyebabkan penguasaan atas kekayaan alam itu terjadi. Bahkan, satu hal yang kecil saja, jika kita lihat, pasar buah kita pun didominasi oleh buah impor dari Luar Negeri. Padahal jelas-jelas kita adalah negara agraris penghasil buah-buahan. Kenapa kita mesti impor?

Maka jika menjelang peringatan 102 tahun Kebangkitan Nasional ini kita semakin disuguhi bermacam-macam kabar yang menyesakkan dada, maka akankah kita, Indonesia ini, yang nenek moyang kita konon adalah penguasa peradaban Atlantis itu ternyata tidak sanggup mewarisi kehebatan nenek moyang kita itu, bukankah buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya, maka jika nenk moyang kita sanggup membentuk peradaban yang hebat itu, kemudian setelah hancur karena bencana alam yang dahsyat itu masih tetap sanggup membuat peradaban Sriwijaya, Kutai, Kalingga, Mataram, Majapahit, maka akankah kita yang sekarang terpuruk ini sanggup mengevaluasi diri dan berlahan bangkit dari tidur panjang kita dan kembali menjadi satu di antara negara yang disegani di belahan dunia ini?

akahkah itu terjadi lagi? dan berapa lama lagi bangsa ini musti menunggu?