Kamis, 27 Mei 2010

Sri Mulyani capres 2014? sulit!!

Pasal 6A ayat 2 UUD 1945 yang telah diamandemen jelas-jelas berbunyi : “ Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum”

Maka jika kemudian hari-hari ini karena romantisme kesan didzolimi/dianiaya disematkan kepada sosok Sri Mulyani, yang terpaksa menyingkir dari pemerintahan karena terdesak oleh kartel politik negeri ini, yang dikuasai oleh partai-partai koalisi Cikeas, yang karena romantisme kesan dianiaya itu kemudian diangankan maju sebagai calon presiden di 2014, maka kini mungkin kita harus mulai berhitung, kira-kira partai apa yang akan menjadi kendaraan Sri Mulyani untuk maju di 2014?

Mungkin saja para pendukung, yang dengan penuh semangat mengajukan ide itu, apalagi dipantik dengan kata-kata Sri Mulyani yang bersayap : ” I’ll be back” bisa bilang, kalaupun partai-partai sekrang yang ada, yang telah mendzoliminya tidak mau mengajukan Sri Mulyani untuk maju sebagai calon presiden, toh mereka bisa mendirikan partai sendiri, meniru langkah SBY setelah gagal dalam pemilihan wakil presiden 2002 yang lalu kemudian mendirikan partai sendiri dan terbukti memenangkan kursi presiden di 2004 dengan partainya tersebut. Namun ternyata ide itu bisa jadi juga bakal pupus di tengah jalan, karena para elit partai yang ada saat ini sedang membincangkan ide untuk membuat aturan dalam undang-undang politik yang baru bahwa sebuah partai baru tidak langsung bisa mengikuti pemilu di 2014, sebagaimana tercermin dalam rapat Badan Legislasi (Baleg) DPR belum lama ini yang membahas soal revisi UU No 2/2008 tentang Partai Politik, muncul wacana bahwa parpol yang baru lahir tidak boleh menjadi peserta Pemilu 2014.

Dengan melihat hal itu, maka tampaknya akan sulit bagi para pengusung ide Sri Mulyani for RI 1 untuk bisa mewujudkan idenya tersebut. Sebab untuk sementara belum ada pintu masuk bagi Sri Mulyani bisa melaju dengan melihat konstelasi partai yang ada saat ini. Partai-partai koalisi Cieas saat ini tentu tidak akan mengusungnya karena justru koalisi inilah yang disebutnya dengan istilah “kartel politik” yang membuatnya terpaksa menyingkir dari panggung pemerintahan. Sementara jika dari barisan oposisi, tampaknya juga cukup sulit untuk menjadi pintu masuk karena citra neolib yang melekat/dilekatkan padanya jelas menjadi faktor terbesar penolakan kubu oposisi yang mengusung jargon kerakyatan untuk mencalonkannya.

Meskipun, banyak juga yang akan bilang, toh masih 4 tahun lagi, konstelasi politik bisa saja berubah. Justru karena masih 4 tahun lagi itulah, maka peluang akan semakin menipis, karena semua berkaitan dengan momentum, titik kepopuleran tertinggi Sri Mulyani ada di saat ini, sehingga peluang akan terpilih adalah manakala pemilihan diadakan saat ini, bukan 4 tahun mendatang. Apalagi tipikal masyarakat negeri yang mudah lupa, maka jika Sri Mulyani kemudan 4 tahun ke bank dunia, dan kembali ke negeri ini 4 tahun lagi, bisa dipastikan popularitasnya sudah tidak seperti hari-hari ini. Dan bisa jadi di 2014 sudah ada tokoh lain lagi yang mendapat momentum karena kesan didzolimi yang muncul, dan tokoh baru itulah yang akan muncul sebagai calon potensial untuk menang di 2014, sebagaimana SBY yang menang di 2004 karena kesan didzolimi oleh Mega.


Selasa, 25 Mei 2010

Kekalahan AM = Kekalahan FoxIndonesia

FoxIndonesia, nama konsultan politik yang dimiliki oleh malarangeng bersaudara itu sempat sedemikian moncer di blantika perpolitikan nasional pasca kemenangan fenomenal satu putaran pasangan sby-no tahun lalu, serta kemenangan fenomenal ibas di pemilu legislatif beberapa bulan sebelum pilpres tahun lalu.

Namun kini tuah konsultan politik itu ternyata sudah memudar, lihatlah dalam perhelatan kontestansi ketua umum partai demokrat beberapa hari yang lalu, yang secara gemilang dimenangkan oleh anas urbaningrum. Di perhelatan itu, FoxIndonesia, dukun modern itu benar-benar tak bertuah lagi, alih-alih memenangkan jagoannya, andi malarangeng, yang adalah kakak kandung sang empunya FoxIndonesia, yaitu rizal malarangeng dan choel malarangeng, tapi yang terjadi adalah sebaliknya andi malarangeng yang mereka usung gugur di babak pertama pertandingan.

Yang tersenyum tentu adalah denny ja, ichsan loulembah dan ipang wahid dari lingkaran survey Indonesia,folkindonesia dan fastcomm yang berada di belakang anas urbaningrum. Mereka secara meyakinkan telah mampu membalikkan situasi, dimana sebelum pertandingan dilaksanakan hampir semua pihak telah menempatkan andi malarangeng lah yang akan memenangkan pertandingan, sehingga bahkan dengan jumawa nya kubu andi mengusuung ide aklamasi dalam penentuan ketua umum saking yakinnya bahwa andi malarangeng lah yang bakal memenangi pertandinngan.

Tapi kelihaian trio konsultan politik di belakang anas urbaningrum ternyata sanggup mempecundangi grasah grusuhnya kerja-kerja FoxIndonesia yang jor-joran dalam serangan udara, sehingga seakan-akan pertandingan yang terjadi adalah semacam pilkada atau pilpres dimana masyarakatlah yang akan melakukan pemilihan. Padahal yang disasar sebenarnya hanya 531 suara pemilik suara di arena kongres partai demokrat itu. Di lain pihak kubu anas urbaningrum melalui fastcomm yang digawangi oleh ipang wahid tidak jor-joran dalam perang iklan, karena iklan bagi mereka hanya sekedar pelengkap semata, dan sekaligus sebagai semacam pembeda dengan kubu andi malarangeng, sehingga citra yang terbentuk adalah bahwa anas tidak menghambur-hamburkan uang yang pasti akan menimbulkan kecurigaan, sumbernya darimana sehingga bias jor-joran iklan.

Di sisi peran yang dimainkan oleh FoxIndonesia di kubu andi malarangeng dan trio lsi,fastcomm,Dn folkindonesia di kubu anas urbaningrum juga sangat berbeda, di kubu andi, sebagaimana sejak menangani ketua umum PAN SB beberapa tahun silam sampai menangani andi malarangeng, FoxIndonesia terlihat begitu dominan, dari a sampai z sehingga menimbulkan kejengkelan di kader-kader partai yang ditangani, sementara di anas urbaningrum, semua ada di kendali anas, konsultan betul-betul membantu sesuai porsi yang telah ditentukan oleh tim sukses anas sesuai arahan dari anas, hal itu juga diakui oleh denny ja, yang hanya menyampaikan ide dan gagasannya hanya di hadapan anas semata, dan anas yang ambil keputusan dari ide dan gagasan dari konsultannya itu.

Maka tidak heran jika pendekatan yang dilakukan oleh konsultan politik kubu andi akhirnya menimbulkan anti pati dari kalangan DPD dan DPC yang merasa tidak dilibatkan sama sekali oleh andi karena semua ditangani oleh FoxIndonesia yang dikomandoi oleh rizal malarangeng, yang notabene adalah salah seorang ketua dpp partai golkar, yang menelikung dari belakang koalisi cikeas dalam kasus bank century, sehingga meskipun di level puncak, sby dan ical sudah terlihat rujuk dan mesra kembali, namun di kalangan pengurus DPD dan DPC rasa sakit hati kepada golkar tentu masih tersimpan di dada mereka masing-masing, dan menempatkan rizal malarangeng, yang ketua dpp golkar di posisi yang menentukan dalam perebutan kursi ketua umum partai demokrat, adalah blunder besar yang tidak disadari oleh andi malarangeng. Dan terbukti, alih-alih mendapatkan dukungan 86% suara sebagaimana yang mereka klaim, merekaa hanya mendapatkan 82 suara (16%) dan gugur di babak pertama pertarungan itu.

Kamis, 20 Mei 2010

kebangkitan nasional? kapan?

Sejarah bangsa ini dipenuhi oleh ribuan bahkan jutaan pahlawan, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal oleh kita selaku penerus bangsa. Selama ratusan tahun, perlawanan terhadap bangsa-bangsa penjajah dilakukan dengan tanpa henti di seantero bumi nusantara kita tercinta, dengan satu tekad, mengusir penjajah dari ibu pertiwi.

Namun sejarah juga mencatat bahwa perlawanan yang dilakukan itu pada akhirnya kandas, karena dilakukan tanpa persatuan di antara para pejuang. Setelah menelaah kegagalan para pejuang yang masih bersifat kedaerahan itulah, para mahasiswa STOVIA di Jakarta, pada tanggal 20 Mei 1908 menggagas berdirinya sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Budi Utomo (BU). Organisasi inilah yang kemudian menjadi tonggak baru sifat dan cara perlawanan terhadap penjajah, dari yang bersifat kedaerahan menjadi bersifat kebangsaan, dari perjuangan fisik menjadi perjuangan diplomasi. Kemudian, setelah BU, secara bergelombang, bermunculan lah berbagai organisasi di seantero Indonesia yang punya satu tekad bersama, yaitu Indonesia merdeka. Hal inilah yang kemudian mendasari diperingatinya kelahiran BU (20 Mei), sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Kini, tak terasa, kita telah memasuki 102 tahun sejak ditetapkannya 20 Mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana dengan kondisi sekarang? Apakah kita telah nyata-nyata bangkit? Atau, bahkan menjadi kembali terpuruk seperti sebelum 20 Mei 1908?

Setelah kemerdekaan Indonesia, 17 agustus 1945, Presiden pertama kita, Ir Soekarno selalu mengingatkan pada seluruh anak bangsa tentang bahaya kolonialisme baru (penjajahan-red), atau yang beliau sebuat dengan istilah NEKOLIM. Kini, jika kita telaah kedaan kita sekarang ternyata apa yang ditengarai oleh beliau ternyata betul-betul menjadi kenyataan. Ternyata sekarang kita kembali terjajah oleh bangsa asing. Bedanya, kalau dulu penjajahan secara fisik, kini penjahan dilakukan secara ekonomi dan politik. Satu contoh, kita lihat saja betapa kekayaan alam kita, sebagian besar tidak kita kuasai sendiri, namun justru dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing. Kita seolah tidak punya kekuatan untuk menolak penguasaan atas sumber-sumber kekayaan kita itu. Maka tidak heran ketika harga BBM dinaikkan, timbul pertanyaan oleh sebagian masyarakat: "katanya kita itu penghasil minyak, tapi kok harga naik terus?" Ternyata jawabannya adalah,, karena sebagian besar minyak yang dihasilkan oleh bumi kita itu, justru dimiliki oleh pihak asing. PERTAMINA hanya menghasilkan 136 ribu barrel per hari, sementara ratusan ribu barrel lainnya dikuasai oleh perusahaan asing!!!

Kita tentu juga sering mendengar nama Exxon Mobile, Caltex, Shell, Freeport, Newmont. Sederetan nama itu adalah perusahaan asing yang menjalankan operasinya di negeri kita tercinta ini. Mereka lah yang mengeruk kekayaan alam kita, seperti minyak bumi, emas, dan kekayaan alam lainnya. Dari pengolahan kekayaan alam itu, kita hanya mendapat sedikit saja dari total keuntungannya. Sementara jumlah besar lainnya, dibawa ke negeri dimana perusahaan asing itu berasal. Dengan demikian, mereka lah sesungguhnya yang menguasai bumi kita, sementara kita sebagai tuan rumah hanya menjadi penonton saja selama ini

Jadi beda penjajahan yang dilakukan jaman kakek nenek kita dulu dengan sekarang adalah, jika dulu kita hanya dijajah oleh sebuah perusahaan, yaitu VOC, atau kumpeni, sekarang kita berada dalam penjajahan banyak sekali perusahaan asing. Mereka menguasai berbagai macam asset berharga bangsa kita, mulai dari bahan tambang kita, hutan kita, telekomunikasi kita, perbankan kita, dan sebentar lagi industri strategis kita seperti Krakatau Steel juga akan dikuasai oleh pihak asing. Kebijakan Negara yang disebut dengan PRIVATISASI (menjual badan usaha milik Negara kepada perusahaan swasta multinasional), adalah hal yang menyebabkan penguasaan atas kekayaan alam itu terjadi. Bahkan, satu hal yang kecil saja, jika kita lihat, pasar buah kita pun didominasi oleh buah impor dari Luar Negeri. Padahal jelas-jelas kita adalah negara agraris penghasil buah-buahan. Kenapa kita mesti impor?

Maka jika menjelang peringatan 102 tahun Kebangkitan Nasional ini kita semakin disuguhi bermacam-macam kabar yang menyesakkan dada, maka akankah kita, Indonesia ini, yang nenek moyang kita konon adalah penguasa peradaban Atlantis itu ternyata tidak sanggup mewarisi kehebatan nenek moyang kita itu, bukankah buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya, maka jika nenk moyang kita sanggup membentuk peradaban yang hebat itu, kemudian setelah hancur karena bencana alam yang dahsyat itu masih tetap sanggup membuat peradaban Sriwijaya, Kutai, Kalingga, Mataram, Majapahit, maka akankah kita yang sekarang terpuruk ini sanggup mengevaluasi diri dan berlahan bangkit dari tidur panjang kita dan kembali menjadi satu di antara negara yang disegani di belahan dunia ini?

akahkah itu terjadi lagi? dan berapa lama lagi bangsa ini musti menunggu?

Selasa, 09 Maret 2010

trus apalagi?

sesudah hiruk pikuk kerja pansus century yang menyita perhatian publik selama sekian bulan, akhirnya DPR secara resmi menyatakan bahwa bail out century bermasalah, setelah melalui voting di rapat paripurna yang sempat diskors sekian jam untuk lobi-lobi politik antara pihak yang istana dan pendukungnya dan pihak yang kontra.

akhirnya, setelah sekian bulan bekerja

yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, trus apalagi sesudah itu?

sby segera setalah paripurna DPR resmi menyatakan bail out bermasalah dan menunjukk boediono dan sri mulyani sebagai pihak-pihak yang paling bertanggung jawab, kemudian membuat pidato politik yang terkesan pasang badan untuk membela boediono dan sri mulyani serta justru menyalahkan DPR yang dinilainya tidak mampu membaca situasi pada saat kebijakan bail out diambil.

sejalan dengan sby, marzuki alie, yang adalah ketua DPR, yang secara resmi telah menyatakan bail out century bermasalah, namun lupa dengan posisinya sebagai ketua DPR, dan hanya ingat bahwa dirinya adalah kader demokrat, dengan entengnya bilang bahwa keputusan DPR soal century tidak musti dijalankan.

kini bola ada di tangan DPR kembali, apakah cukup puas hanya dengan menghasilkan sebuah keputusan bahwa bail out century bermasalah, atau ada langkah lain lagi yang akan dijalankan untuk menindaklanjuti keputusannya itu.

adnan buyung nasution, salah satu tokoh yang cukup dikenal publik berharap bahwa DPR segera menindaklanjuti keputusan minggu lalu dengan segera menginisiasi hak menyatakan pendapat.

dan tampaknya, Golkar, sebagai salah satu partai yang cukup getol dalam membongkar skandal century ini, sedang membaca desakan dari pihak-pihak yang menginginkan DPR menggunakan hak menyatakan pendapat, dan jika desakan itu menguat, tentu bukan tak mungkin Golkar akan memainkan tarian politiknya lagi dengan menggalang dukungan bagi dilakukannya hak menyatakan pendapat, atau bahkan bisa jadi sejak sekarang sebenarnya Golkar sudah dalam rangka menggalang dukungan, sambil menanti saat yang tepat untuk menyampaikan ke publik.

hal ini tentu saja karena kita sadari bahwa sebagai pemain yang paling berpengalaman, para politisi Golkar sangat pandai membaca situasi politik dan memainkannya sesuai dengan irama yang diinginkannya.

karena meski hak menyatakan pendapat belum lagi digulirkan secara resmi, wacana tentang nama-nama pengganti boediono sudah berseliweran dan pasti akan mendapat tanggapan dari berbagai pihak, termasuk dari publik, dan tentu ini adalah bagian dari penciptaan kondisi, jika memang pada saatnya nanti boediono betul-betul dilengserkan, maka nama-nama yang sekarang dimunculkan dan mendapat tanggapan dari publik, maka nama-nama yang mendapat tanggapan positif pasti benar-benar akan didorong untuk diajukan menggantikan boediono.

dan untuk itu, maka mau-tidak mau, lobi-lobi politik tingkat tinggi pasti sudah dimulai dilancarkan sejak sekarant.

wallahu alam…


Sabtu, 06 Februari 2010

Kerbau, Spanduk, Demo, Provokator

konon sang penguasa negeri ini sedang resah hatinya karena tak membayangkan betapa di masa kekuasannya yang kedua, yang masih seumur jagung ini bakal mengalami berbagai macam rintangan baik dari para lawan politknya maupun dari anak-anak nakal yang sangat suka merecoki dia dan para punggawanya.

ketika mengomentari aksi turun ke jalan berkaitan dengan hari keseratus dia berkuasa kembali di negeri ini, konon dia tampak kurang begitu suka dengan cara-cara yang dipakai para pengritiknya yang dinilainya tidak pantas di negeri Pancasila ini, sehingga ketika sedang memimpin pertemuan dengan para gubernur se Indonesia yang bertema mengenai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, maka bukan hanya rencana-rencana strategis pembangunan yang dibahasnya bersama para gubernur itu agar kesejahteraan rakyat semakin cepat terlaksana yang kemduian disampaikannya ke media agar diketahui publik namun justru lebih soal curhat soal, namun jsutru soal kerbau yang dibawa seorang pendemo yang dia persoalkan dan dia lontarkan kepada media dan diketahaui oleh publik, dan sama sekali bukan soal mengapa demonstran itu membawa kerbau yang dia analisa, tapi soal dirinya sendiri yang dia curhatkan kepada publi

karena itulah maka saya tiba-tiba inginjuga menulis sedikit soal kerbau

hari-hari menjelang seratus hari masa pemerintahan sang penguasa, kita dapat saksikan di pojok-pojok jalan di seantero ibu kota bertebaran spanduk yang nyaris seragam yang menghimbau agar warga masyarakat tidak terpancing dengan isu-isu para provokator yang berkeinginan menghancurkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa ini.

spanduk yang berisikan kalimat yang kesannya seperti tidak up to date lagi, karena kalimat-kalimat seperti itu sudah sering dimunculkan sejak sepuluh tahun terakhir.

dan herannya meski jelas-jelas bahwa pembuat spanduk itu menunjuk adanya provokatror yang tidak bertanggung jawab, namun tidak pernah sekalipun pembuat spanduk-spanduk itu sejak dahulu menunjukkan kepada warga masyarakat tentang siapa provokator itu, sehingga yang terjadi adalah ketika masyarakat diminta waspada dengan isu adanya para provokator yang tidak disebutkasn siapa saja provokator itu, maka sangat dimungkinkan akan timbul saling curiga diantara sesama anak bangsa ini karena saling mengira bahwa diantara mereka ada provokator yang tidak bertanggungjawab itu.

dan manakala sikap saling curiga itu timbul dan membesar maka di tengah situasi politk yang semakin memanas ini, sangat mudah bagi para pihak untuk memanfaatkan situasi saling curiga itu untuk menimbulkan chaos.

pertanyaannya adalah siapa yang bakal mendapatkan keuntungan dari situasi chaos yang timbul karena sikap saling curiga diantara anak bangsa ini, karena diawali oleh isu provokator itu?

berkaitan dengan isu provokator, chaos dan cerita soal kerbau, tiba-tiba saja saya teringat kisah Mas Karebet alias Joko Tingkir yang konon agar bisa diterima menjadi prajurit di Demak maka dia terlebih dahulu membuat ontran-ontran di alun-alun kraton Demak dengan cara membuat seekor kerbau mengamuk dan membuat onar di seputaran alun-alun, dan akhirnya dengan sukses Joko Tingkir sendirilah yang bisa mengatasi kekisruhan yang sebernarya dia buat sendiri itu dan karena dianggap berjasa maka dia diangkat menjadi prajurit di Demak.

berkaca dari cerita Joko Tingkir itulah, maka jika terjadi chaos karena bermula dari sikap saling curiga antar anak bangsa muncul karena adanya isu provokator yang sengaja disebar di seantero ibukota itu, maka pembuat isu provokator itulah yang bakal menikmati keuntungan dari chaos yang dia ciptakan itu

wallahu alam…


Jumat, 22 Januari 2010

Piagam Yogyakarta Serambi Madinah

Ngayogyakarta Serambi Madinah , merupakan tatanan masyarakat yang hidup rukun dan saling menghormati dalam tatanan etnik, budaya dan filosofi kehidupan. hadir semenjak Tahun 1755 M dalam sebuah Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat, sebuah kerajaan jawa islam yang berbentuk kasultanan dan di pimpin oleh Khalifatullah.


Sultan Khalifatullah dalam dinasti Hamengku Buwana adalah pelanjut perjuangan Mataram Islam yang di pimpin oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma yang dalam menjalankan amanat khilafahnya Sultan berpegang pada filosofi dan ajaran walisongo serta piwulang agung.


Hamengku Buwana dalam Fungsi Hamangku dan hamangkoni pada masyarakat mengaplikasikan nilai nilai luhur dalam tatanan masyarakat yang berbudaya islami pada kehidupan yang penuh kemajemukan yang rukun, tenggangrasa,gotongroyong dan hormat antar sesama dalam dinamika keseharian yang produktif dan bertanggungjawab. Secara Keseluruhan Profil Masyarakat Ngayogyakarta memiliki kesamaan Karakteristik dengan Masyarakat Madinah pada Zaman Nabi Muhammad SAW.

Selasa, 12 Januari 2010

rame-rame lupa

memasuki bulan januari ini, kesibukan pansus cantury semakin disibukkan dengan pemanggilan para aktor yang terlibat dengan pengucuran dana 6.7 trilyun pada bank century tahun lalu.

mulai dari para pejabat dan mantan pejabat di lingkungan bank sentral negeri ini, sampai robert tantular, sang pemilik bank yang telah dijatuhi hukuman 4 tahun penjara karena kasus “perampokan” dana nasabah bank century.

tak terkecuali mantan gubernur bank sentral, yang kini menjabat sebagai orang kedua di republik ini, kembali dipanggil untuk memberikan keterangan di hadapan para anggota pansus yang selalu bikin heboh dengan kehebohan-kehebohan yang kurang begitu menukik pada persoalan (seperti kehebohan si poltak dan gayuus lumbun).

sementara sang ketua kksk dan mantan wakil presiden saat pengucuran dana berlangusng, yaitu JK, masih sedang menunggu antrian untuk hadir memenuhi undangan pansus.

yang akan kita bicarakan disini, bukan persoalan apa isi yang disampaikan di hadapan pansus, dan seberapa jauh pansus sudah berhasil megorek keterangan dari semua yang telah dipanggilnya sejauh ini, namun adalah pada fenomena yang melingkupi para pejabat, dan mantan pejabat yang dipanggil oleh pansus itu.

fenomena yang dimaksud adalah fenomena lupa alias tidak ingat.

para pejabat, atau mantan pejabat yang merupakan orang-orang hebat negeri ini, yang di tangan mereka lah situasi moneter negeri ini dibenankan ternyata banyak yang mengidap penyakit lupa, tak terkecuali juga menghinggapi orang nomor dua di republik ini, sang mantan gubernur bank sentral, yang ternyata solider dengan koleganya sesama pejabat dan mantan pejabat bank sentral yang banyak lupa tentang persoalan seputar pengucuran dana bail out 6.7 trilyun tersebut.

kita berharap ketika ketika sang ketua kksk dan mantan orang kedua republik ini dipanggil, mereka tidak seperti para mantan pejabat dan pejabat bank sentral yang rame-rame lupa, dan secara terbuka membeberkan apa yang sebenarnya terjadi seputar pengucuran dana 6.7 trilyun tersebut.

semoga….

menata diri untuk kemenangan

PAN didirikan pada 23 Agustus 1998. Pada 1999 untuk pertama kalinya PAN mengikuti pemilu dengan mendapatkan dukungan dan support oleh tokoh-tokoh reformis, cendekiawan dengan basis konstituen yang jelas, yakni kalangan Islam modernis seperti Muhammadiyah, HMI, IMM, dll.

Hasilnya PAN berhasil meraih posisi kelima setelah PDIP, Golkar, PPP, dan PKB, dengan memperoleh suara 7.528.956 (7,12%) dengan 34 kursi legislatif. Pada Pemilu 2004 PAN kembali berhasil menempatkan posisinya kelima setelah Golkar, PDIP, PPP, dan Partai Demokrat, dengan memperoleh suara 7.303.324 (6,44%) dengan 52 kursi legislatif. Pada Pemilu 2009 lagi-lagi PAN menduduki posisi kelima setelah partai Demokrat, Golkar,PDIP dan PKS dengan memperoleh 46 kursi legislatif Gambaran hasil dalam tiga kali pemilu tersebut merupakan realitas yang harus diterima dan menjadi bahan kajian seluruh komponen PAN.

Dalam tiga periode pemilu PAN selalu di lima besar, sedangkan partai-partai lain saling susul-menyusul ke puncak urutan pertama. Berangkat dari kajian tersebut maka untuk periode 2010–2015 PAN harus melakukan terobosan-terobosan, perbaikan, pembaruan. Harus ada perubahan secara radikal baik dalam visi, misi, dan kinerja yang jelas. Bila kita lengah, maka partai-partai lain, termasuk partai yang berada di bawah urutan PAN, akan menyalib posisi PAN.

Lewat kongres ini kita harus mantapkan tujuan bahwa PAN harus menjadi partai yang terdepan, minimal naik peringkat menjadi tiga besar. Misi itu bisa dilakukan hanya dengan semangat kebersamaan dan saling bahu membahu. Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan Partai Amanat Nasional yaitu melakukan konsolidasi evaluasi baik secara internal dan eksternal di dalam tubuh PAN.

Konsolidasi Internal

Pengurus yang baru harus mulai merangkul kekuatan-kekuatan yang pernah dimiliki PAN. Pada periode 1999 dan 2004 PAN kuat dengan disokong oleh pemilih masyarakat perkotaan. Lalu pada 2009 PAN kuat dengan disokong pemilih masyarakat pedesaan, namun pemilih perkotaannya banyak yang hilang.

Berarti ada sesuatu yang hilang, salah satu yang hilang itu rupanya adalah ikon-ikon dari masyarakat perkotaan, ikon itu adalah cendekiawan, tokoh-tokoh reformis, dan kelompok Islam modern. Kelompok inilah yang harus PAN rangkul kembali agar masyarakat perkotaan kembali memilih PAN, seraya senantiasa merawat yang sudah didapat, yakni para pemilih masyarakat pedesaan. Dalam rangka merangkul kembali para pemilih, susunan kepengurusan periode berikutnya harus diubah dengan mengikuti kebutuhan pemilih.

Sudah bukan saatnya lagi hanya mementingkan punya organisasi, tapi orang-orangnya tidak maksimal diberdayakan. Bukan saatnya menempatkan orang karena hanya belas kasihan atau karena sesuatu hal lain. Pengurus yang baru harus jelas kapabilitas dan kapasitasnya. Selain itu, struktur organisasi harus diperbaiki. Kongres harus mengubah konsep struktur organisasi. Jangan sampai di dalam struktural ada namanya, ada jabatannya, tapi orangnya tidak pernah bekerja.

Kita harus menggunakan struktur kerja menuju ke sasaran produksi/pemilih, gunakan konsep struktur perusahaan-perusahaan besar yaitu adanya proses praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Bentuknya adalah membuat badan penelitian dan pengembangan serta pengaderan (praproduksi), membuat badan pemenangan pemilu, membuat badan pengumpulan dana partai (produksi), serta public relations (pascaproduksi). Leburkan saja badan-badan yang lain seperti badan pertahanan keamanan, badan kesehatan, lingkungan hidup, infrastruktur, jaringan usaha dan wirausaha, dll ke dalam badan pemenangan pemilu.

Menurut penulis, kepengurusan PAN saat ini terlalu gemuk. Badan-badan organisasi kepengurusan yang ada tidak produktif. Misalnya untuk menggarap kemenangan di kalangan anak-anak muda maka buatlah Badan Pemenangan Generasi Biru (pengganti nama anak-anak muda). Untuk menggarap kaum perempuan, buatlah Badan Pemenangan Kaum Perempuan. Atau jika mau menggarap kemenangan di daerah-daerah buatlah langsung Badan Pemenangan Wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, Madura dan sebagainya. Carilah profesional yang mumpuni di daerah tersebut.

Langkah ini juga memberikan kesempatan lebih untuk tingkat DPD dan DPW dan membuat mereka lebih dihargai karena orang-orangnya diberi kepercayaan menjadi pengurus pusat. Buat juga satu badan khusus yang membidangi public relations. Badan ini tugasnya menginformasikan kegiatan internal dan eksternal serta melakukan pencitraan untuk menghasilkan publikasi yang efektif. Dengan begitu, program kerja partai terinformasikan kepada masyarakat secara berkesinambungan.

Organisasi Modern

Dalam menjalankan suatu organisasi modern, tentu harus ada reward dan punishment. PAN harus memberikan reward dan punishment kepada tiap-tiap DPD, DPW. Sebagai contoh, bilamana ada yang dapat memenangkan pemilihan bupati/wali kota/gubernur yang diajukan oleh partai, makan akan mendapatkan reward (hadiah).

Sebaliknya bila tidak dapat memenangkan akan mendapatkan punishment (hukuman), sehingga kinerja DPW dan DPP lebih terpacu untuk menghasilkan yang terbaik. Sudah saatnya PAN merancang sebuah partai modern dalam manajemen kepartaiannya. Ada beberapa hal yang harus diejawantahkan oleh pengurus baru hasil kongres. Pertama, menjembatani komunikasi politik yang efektif kepada konstituen dan kader-kadernya. Kedua, menggunakan saluran komunikasi modern yang dianggap mampu mengangkat citra partai dan ketua umumnya.

Ketiga, menggunakan media public relationsdan kecanggihan teknologi. Keempat, pola kepartaian yang dibangun dibuat seperti pola perusahaan dalam rangka menghasilkan produksi yang berkualitas, sehingga produknya banyak diminati orang atau masyarakat. Untuk itu maka gunakan teknik strategi marketing. Pertama, segmentasi. PAN harus ingat bahwa persaingan dalam memperebutkan masyarakat tidak dilakukan di pasar, tapi di benak masyarakat. Artinya harus jelas dulu segmen mana yang mau ditunjukkan ke masyarakat, mau berkiblat pada partai nasionalis, atau agama, sehingga masyarakat tidak bingung akan keberadaan PAN.

Kedua, positioning. Ini adalah segala upaya untuk mendesain produk dan merek kita agar tercipta sebuah persepsi yang unik dan mantap di benak masyarakat. PAN harus bisa membangun kepercayaan, keyakinan di hati masyarakat dan konstituen. Apa yang dijanjikan harus ditepati. Kalau positioning sebagai partai reformasi ya harus kritis dan solutif. Ketiga, diferensiasi. Dalam hal ini PAN harus merancang seperangkat pembedaan yang mendatangkan nilai (value) yang bermakna kepada masyarakat. PAN sebagai partai politik harus dapat memberikan nilai tambah yang bermanfaat. Harus ada keunggulan yang dapat bermanfaat buat masyarakat.

Bentuknya bisa dalam memperjuangkan keinginan yang ada pada masyarakat, entah itu kesehatan, pendidikan, pembangunan desa, atau lainnya. Keempat, branding. Dalam konsep ini nama, tanda, simbol atau desain yang dibuat harus mengidentifikasikan produk yang kita tuangkan. PAN harus berupaya secara maksimal melakukan strategi pemasaran yaitu kerja nyata untuk kepentingan masyarakat secara berkesinambungan agar nama PAN terus mendapat hati di masyarakat. Kelima, targeting. Dalam hal ini segala upaya yang dilakukan harus memperoleh hasil.

PAN harus menargetkan partai ini mengarah ke mana, saat pemilu harus mendapatkan kursi di legislatif berapa, kader mana yang tepat sebagai calon presiden, berapa juta suara yang didapatkan. Di dalamnya termasuk apakah sudah mencapai target memberi solusi untuk kepentingan bangsa atau belum, semua hasil-hasil harus dievaluasi secara berkala agar mendapatkan target yang maksimal. Sudah saatnya seluruh jajaran partai dari tingkat DPC, DPD, DPW DPP serta kader yang mempunyai rasa memiliki PAN bersama-sama saling bahu membahu, bergandengan tangan untuk menuju satu yang mulia, yaitu kebesaran partai.

Secepatnya PAN melakukan perubahan. Rhenald Kasali mengatakan, perubahan membutuhkan waktu, biaya, dan kekuatan. Untuk menaklukkannya perlu kematangan berpikir, kepribadian yang teguh, konsep yang jelas dan sistematis, dan itu bisa dilakukan oleh para kader PAN. Selamat berkongres, semoga PAN terdePAN.(*)

Eko Patrio
Anggota Komisi X DPR, Wakil Ketua Fraksi PAN