Selasa, 29 Desember 2009

Dari Tahun Kebohongan Menuju Tahun Ujian

HARI demi hari sepanjang 2009 telah kita lalui. Ada dinamika politik yang membanggakan, ada pula yang memuakkan. Tiga hari lagi kita akan memasuki 2010, tahun yang penuh tantangan, khususnya bagi penguasa negeri.

Sampai pertengahan 2010 politik di tingkat pusat pemerintahan masih akan penuh gonjang-ganjing terkait skandal Bank Century. Pada tingkat lokal, adanya 248 Pilkada langsung di seluruh Indonesia menambah suasana dinamis politik Indonesia. Akankah politik Indonesia stabil pada 2010? Akankah Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Kasus Bank Century membuat putusan win-win solution di antara pemilik kartel-kartel politik?

Ataukah hasil jalur hukum tata negara di DPR yang dipadu jalur hukum pidana melalui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu akan mengarah pada pemakzulan (impeachment) penguasa negeri? Berbagai pertanyaan itu masih tersimpan di benak rakyat, pengamat politik dan penguasa. Nuansa damai tampak nyata saat kita melaksanakan pemilu legislatif ketiga kalinya dan pemilu presiden/wakil presiden langsung di era reformasi.

Pemilu legislatif yang berlangsung 9 April 2009 dan pemilu presiden/wakil presiden pada 8 Juli 2009, berlangsung nyaris tanpa tumpahan darah setes pun, kecuali akibat kecelakaan pada masa kampanye. Ini menunjukkan betapa rakyat Indonesia telah benar-benar dewasa dalam melaksanakan hak-hak demokrasi. Kalaupun nama-nama mereka tidak masuk daftar pemilih tetap (DPT), baik pada masa pemilu legislatif maupun pemilu presiden, mereka hanya dapat mengelus dada tanpa melakukan keonaran politik.

Jika pun ada yang tidak ikut memilih, mereka juga tidak mau sesumbar sebagai bagian dari golongan putih karena ketidakpercayaan mereka pada sistem pemilu yang amburadul. Yang patut dicela dari dua perhelatan demokrasi itu antara lain berikut ini. Pertama, profesionalisme Komisi Pemilihan Umum (KPU) amat diragukan.

Para anggota KPU lebih mengutamakan jalan-jalan ke mancanegara ketimbang menyelesaikan secara tuntas DPT yang bermasalah. Kedua, DPT bermasalah menimbulkan tanda tanya besar apakah Pemilu 2009 benar-benar jujur dan adil. Ketiga, siapa yang memenangkan tender pengadaan teknologi informasi untuk KPU juga menimbulkan persoalan bukan hanya dari sisi finansial, melainkan juga dari sisi politik, khususnya apakah data yang diungkapkan KPU absah atau meragukan.

Analisis akhir dari dua perhelatan politik akbar di tahun 2009 itu ialah rakyat sudah amat dewasa dalam berpolitik, namun masih banyak kelemahan dalam pelaksanaan dua pemilu nasional di usia demokrasi yang ke-11 tahun. Kelemahan itu yang kemudian menimbulkan persoalan legitimasi politik, benarkah Partai Demokrat dapat melambung dengan perolehan kursinya sampai 300 persen dibandingkan Pemilu 2004?

Tanpa suatu perubahan politik yang amat drastis, seperti perubahan pemerintahan pada 21 Mei 1998 yang kemudian melambungkan perolehan suara PDI Perjuangan pada Pemilu 1999, tampaknya sulit bagi sebuah partai politik memperoleh suara tiga kali lipat dengan cara-cara normal. Perolehan suara 60,8 persen yang diperoleh pasangan SBY-Boediono juga ada yang mempersoalkannya. Tengok pernyataan George J Aditjondro, penulis buku Membongkar Gurita Bisnis Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century (Seputar Indonesia, 28/12/2009)

Kebohongan Politik

Suasana damai pada masa pemilu ternyata tidak membawa negeri ini ke situasi stabilitas pemerintahan. Usai Pemilu Presiden 2009, tampak jelas betapa satu demi satu peristiwa politik telah mengganggu jalannya pemerintahan. Bulan madu yang diharapkan paling tidak terjadi pada 100 hari pertama pemerintahan ternyata sudah dilingkupi suasana saling curiga di antara anggota koalisi.

Kata kunci dari sirnanya bulan madu itu adalah dugaan adanya kebohongan politik di tingkat elite. Akhir masa pemerintahan SBY-JK atau Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I (2004–2009) merupakan titik awal dari terjadinya kebohongan politik itu. Tengok misalnya pernyataan Presiden SBY setelah terjadinya bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, 26 Juli 2009.

Dia mengatakan bahwa menurut informasi intelijen, dia menjadi target pembunuhan oleh “drakula yang haus darah” dengan menunjukkan foto yang dibuat teroris yang menjadikannya sebagai target. Ternyata foto itu bukan foto baru, melainkan foto-foto menjelang Pemilu 2004, di mana bukan hanya SBY yang digambarkan menjadi sasaran tembak teroris, melainkan semua calon presiden dan wakil presiden yang bersaing pada pemilu presiden/ wakil presiden tahun itu.

Terorisme memang menjadi fenomena politik menarik sepanjang 2009. Kita harus angkat topi kepada Kapolri dan jajarannya atas keberhasilan mereka menangkap atau membunuh para pelaku teror bom, termasuk tokoh teroris asal Malaysia, Noordin M Top. Namun kita juga menangkap adanya fakta yang meragukan soal kapan Ibrohim, tukang pengantar kembang di Hotel JW Marriott, mati terbunuh, tanggal 12 Agustus 2009 seperti tertulis di batu nisannya, atau 8 Agustus saat polisi melakukan penyergapan di rumah kosong di Jawa Tengah.

Benarkah juga ada kelompok teroris beraksi di Jati Asih, Bekasi, dengan sasaran rumah kediaman Presiden SBY di Cikeas? Ungkapan kebohongan politik juga tampak saat pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II (2009–2014). Jauh sebelum kabinet disusun, baik presiden terpilih, SBY, maupun tokoh Partai Demokrat sesumbar bahwa kabinet yang akan dibentuk adalah kabinet kerja yang memasukkan kaum profesional nonpartai 65% dan 35% lainnya kaum profesional dari partai-partai politik.

Ternyata, kabinet yang disusun pada 22 Oktober 2009 itu jauh panggang dari api! Susunan kabinet lebih merupakan ungkapan balas jasa politik kepada partai-partai politik pendukung, ketimbang mengangkat kaum profesional murni. Ini yang antara lain menimbulkan konsekuensi politik baru yang menjadi penambah bumbu tak sedap pada dinamika politik pascapembentukan kabinet.

Kriminalisasi KPK dan Centurygate

Nuansa politik pada paruh kedua 2009 juga diwarnai persoalan kriminalisasi terhadap KPK dengan memasukkan dua Wakil Ketua KPK nonaktif, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, sebagai pelaku kriminal. Persoalan hukum itu akhirnya diselesaikan di luar pengadilan. Tak cuma itu, pelemahan KPK tampaknya tertata rapi dengan memasukkan beberapa pasal di dalam Undang-Undang Tipikor yang amat melemahkan KPK sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi.

Rakyat semakin geram dengan adanya upaya Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) untuk membuat peraturan pemerintah (PP) yang antara lain mengharuskan KPK mendapatkan persetujuan dulu dari Kejaksaan Agung sebelum melakukan penyadapan terhadap orang-orang yang diduga melakukan tindak pidana korupsi. Analisis para pakar hukum antara lain mengatakan, di masa normal, peraturan ini memang perlu ada, tapi di masa tidak normal seperti sekarang ini, aturan itu belum perlu ada.

Jika aturan itu diberlakukan, sulit bagi KPK melaksanakan tugas-tugasnya secara independen. Masalah kriminalisasi KPK diduga kuat ada kaitannya dengan upaya KPK untuk membongkar secara tuntas kasus skandal Bank Century. Tak sedikit orang yang berharap agar KPK jangan lamban atas kasus yang sedemikian besar dan memancing perhatian publik ini.

Alasan publik agar KPK lebih cepat bekerja adalah agar KPK lebih mendahului proses politik dan hukum tata negara yang kini sedang berlangsung di DPR. Jika dua proses itu berjalan beriringan dan benar, kita tunggu saja apa hasilnya pada Februari atau Maret 2010 mendatang, ketika mandat Pansus Hak Angket Bank Century berakhir. Kini mulai tampak betapa partai-partai politik pasang kuda-kuda untuk menyelamatkan partai masing-masing dari skandal Bank Century ini.

Dari sisi Presiden SBY dan Partai Demokrat, misalnya, ada imbauan agar mereka memiliki etika berkoalisi yang baik. Satu hal yang aneh, imbauan itu diungkapkan oleh Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, yang digaji dengan uang negara. Pertanyaannya, bolehkah seorang juru bicara resmi membuat pernyataan yang terkait dengan persoalan politik di lingkup internal koalisi dan bukan terkait urusan negara?

Bukankah Presiden SBY dan Partai Demokrat sendiri yang mengajak “buka-bukaan” soal skandal Bank Century sehingga layak bila semua anggota koalisi menuruti ajakan SBY tersebut? Ada tiga kemungkinan yang akan terjadi dari skandal Bank Century ini. Pertama, Pansus ini digembosi di tengah jalan karena kartel politik akhirnya menyetujui win-win solution untuk tidak melanjutkan persoalan itu.

Kedua, para anggota Pansus pantang mundur, maju tak gentar membela yang benar sehingga mereka tetap ingin menuntaskan tugasnya yang terus dipantau rakyat secara langsung. Ketiga, proses di DPR berjalan seiring dengan proses hukum pidana di KPK yang menjurus ke kemungkinan adanya pemakzulan terhadap Presiden RI. Retorika politik Presiden SBY selama kurun waktu 2009 ini tampaknya mendapatkan perhatian besar dari pengamat politik dan rakyat.

Rakyat semakin cerdas untuk menilai, apakah pernyataan Presiden mengandung kebenaran ataukah patut diragukan kebenarannya. Ini termasuk ucapannya terkait dengan buku George J Aditjondro tersebut. Di masa Orde Baru, Mas George, begitu saya memanggilnya, pernah lari ke Australia karena rezim yang ada dulu otoriter. George juga pernah menulis buku yang mirip dengan “Gurita Cikeas”, yakni mengungkap bisnis keluarga Cendana.

Jika dulu harus menyelamatkan dirinya ke Negeri Kanguru, kini dia berani menantang, “Kalau datanya salah, silakan buat buku tandingan. Belajarlah dari HAMKA.” George siap untuk menghadapi pengadilan jika dia dituduh melakukan fitnah atau pencemaran nama baik. Siapkah SBY dan pendukungnya mengajukan George ke pengadilan? Jika ini terjadi, dia akan menambah semarak dinamika politik Indonesia pada 2010 yang sebagian besar terfokus pada satu nama: SBY! Selamat Tahun Baru 2010.(*)

IKRAR NUSA BHAKTI
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI


Rabu, 23 Desember 2009

KPK Tolong Selesaikan Kasus Century!!!

saya teringat kata-kata temen saya, seorang aktifis LSM yang anti parpol di Jogja beberapa tahun lalu, dia bilang dalam politik, tidak ada netralitas, kita pasti berpihak, seminim apapun dukungan kita, kita pasti berpihak, baik aktif maupun pasif, gitu katanya.

ga tahu kenapa setelah membaca beberapa tulisan dan komentar dari rekan-rekan blogger tentang kasus century, saya jadi teringat dengan kata-kata temen saya, yang ga tahu sekarang dimana dia sekarang karena sudah beberapa tahun ga bertemu.

netralitas, sebuah kata yang sedemikian sering kkta dengar, bahkan kita dengungkan ketika dihadapkan pada situasi tertentu, dengan asumsi ketika kita bilang bahwa posisi kita netral, maka kita berharap apa yang kita sampaikan tidak dituduh sebagai bentuk dukungan kepada para pihak yang sedang pada posisi berhadapan.

dalam kasus century, maka berkata kalau posisi kita netral, atau independen, atau tidak mendukung pihak a atau pihak b, memungkinkan kita berharap banyak pihak akan sepakat dengan pikiran kita, posisi kita akan aman, tidak kemudian ada yang menganggap kita terlihat mendukung salah satu pihak baik pihak pendukung kekuasaan atau pihak-pihak yang dituduh haus kekuasaan.

kasus century, adalah sebuah kasus yang tidaklah sesederhana kita bayangkan, begitu bnyak rumor, begitu banyak gosip, bahkan berita resmi yang beredar yang simpang siur karena begitu banyak kepentingan yang bermain di sana.

sebagai sebuah keputusan yang diambil oleh pejabat negara, maka implikasi politis pasti sudah disadari oleh para pengambil keputusan, tak heran maka sempat dikeluarkan sebuah perpu, yang akhirnya ditolak kalangan dewan, yang berisi sebuah pasal bahwa pengambilan keputusan bail out tidak bisa dipidanakan. artinya dengan sempat dikeluarkannya perpu itu, saya percaya sejak awal sudah ada kekhawatiran bahwa bail out ini bakal dipermasalahkan.

maka kini, seperti tulisan saya terdahulu, http://polhukam.kompasiana.com/2009/12/15/dorong-kpk-tuntaskan-kasus-century/ maka kita dorong KPK untuk menuntaskan kasus century ini, karena jika kita serahkan pada pansus century, hasilnya pasti hanya akan terjadi kompromi-kompromi politis belaka.

dan berbeda dengan banyak kompasianers yang bilang tidak memihak, independen lah, maka posisi saya jelas, saya berada pada posisi mendukung sepenuhnya penuntasan kasus century, tak peduli siapapun terlibat dan terbukti bersalah, mau dia teknokrat, mau dia profesional, mau dia orang partai, bahkan orang partai saya sendiri, kalau terlibat, maka siapapun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Indonesia tidak akan kiamat hanya karena banyak orang yang terlibat kasus century ini mempertanggungjawabkan perbuatannya, justru Insya Allah jika kasus ini selesai dengan tuntas, Indonesia akan semakin baik.

terakhir, mari kita ingat, berapa pansus yang pernah ada selama ini, dan apa hasilnya selain kompromi politik???

Rabu, 09 Desember 2009

sebuah kisah untuk renungan....

Kisah tentang penderitaan dan rasa sakit yang diderita oleh orang-orang Gaza menyebar ke seluruh dunia. Semua orang di dunia larut dalam kemarahan, kebencian, dan permusuhan. Bahkan lebih banyak orang merasa sedih dan sangat tersentuh ketika anak-anak kecil yang manis menjadi korban dari peluru dan bom gila Israel, dan darah yang membasahi tanah merah Palestina.

Tragedi mengharukan ini juga menimpa seorang wanita tua yang hidup menderita di salah satu desa di Yaman. Sama seperti orang lain, ia juga merasa sedih dan sedih, dan dia mau tak mau meneteskan air matanya.

Suatu hari ia bertekad untuk membantu terbaik yang ia bisa. Kebetulan, satu-satunya 'aset' yang ia miliki adalah seekor sapi tua, sudah sakit-sakitan, kurus dan lemah.

Dibarengi dengan semangat yang tinggi dan rasa simpati yang meluap, ia berniat untuk memberikan sapinya kepada rakyat Gaza. Jadi, dia meninggalkan rumahnya dengan berjalan kaki menuju salah satu masjid di Yaman sambil memegang satu-satunya sapi tercinta.

Kebetulan, hari itu hari Jumat dan orang-orang telah menyerbu masjid untuk melakukan salat Jumat. Si ibu tua dengan sapinya mau tak mau menjadi pusat perhatian jamaah, karena ia berdiri di tepat luar masjid dengan sapinya. Beberapa dari jamaah mengangguk, sebagian menggelengkan kepala, dan tidak sedikit dari mereka yang tersenyum sinis atau malah sebaliknya, terkejut melihat wanita miskin yang berdiri di samping sapinya dengan setia.

Waktu berlalu dan meskipun jama'ah dari masjid itu khusyu mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh Imam, semakin lama, jamaah shalat Jumat semakin penasaran pada dua makhluk Allah itu. Wanita tua itu dan sapi itu masih di situ, bahkan si wanita tua tanpa sedikit pun menunjukkan tanda malu atau keengganan di wajahnya.

Setelah Imam turun dari mimbar, shalat Jumat kemudian dilakukan. Biar matahari membakar sangat terik dan keringat menetes dari wajahnya, wanita tua dan sapi itu masih saja di situ. Segera setelah semua jama'ah menyelesaikan solat dan do'a, wanita tua itu tiba-tiba bergegas dan menyeret sapinya menuju pintu depan masjid dan menunggu dengan sabar, tidak terpengaruh oleh jama'ah yang berjalan keluar dari masjid. Banyak dari mereka tetap tinggal dan ingin tahu tentang apa yang akan dilakukan oleh wanita tua itu selanjutnya.

Ketika Imam masjid keluar, wanita tua itu melompat berdiri dan berkata: "Wahai Imam, saya pernah mendengar tentang kisah sedih rakyat Gaza. Saya orang miskin tapi saya bersimpati dan ingin membantu mereka. Mohon terimalah satu-satunya sapi ini untuk dibawa ke Gaza, berikanlah kepada orang-orang di sana. "

Terkejut, sang Imam tertegun sejenak oleh permintaan wanita tua. Dan bisa ditebak, ia enggan untuk menerimanya. Yeah, bagaimana untuk membawa sapi tua ke Gaza, Imam bertanya? Di sekeliling, para jama'ah mulai bergumam. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa itu adalah mustahil untuk dilakukan terutama karena sapi sudah tua, pasti tidak memiliki nilai.

"Tolong ... bawalah sapi ini ke Gaza. Ini yang hanya saya miliki. Saya benar-benar ingin membantu mereka," ulang wanita yang tidak diketahui namanya itu. Imam itu masih enggan. Setiap jama'ah berbicara dan berbisik satu sama lain. Semua mata tertuju pada wanita tua dan sapi tuanya.

Mata wanita tua mulai sayu dan penuh dengan air mata tapi ia masih pantang menyerah dan terus menatap Imam. Suasana itu penuh dengan diam untuk sementara waktu. Tiba-tiba, seseorang dari jama'ah bersuara: "Sudahlah, saya akan membeli sapi ini dengan harga sebesar 10.000 riyals dan kemudian uang itu akan disumbangkan kepada orang-orang Gaza."

Imam tampaknya setuju. Wanita tua yang sedih itu menyeka air matanya yang telah mengalir ke bawah. Ia tetap berkata-kata tapi sepertinya setuju dengan saran dari jama'ah. Tiba-tiba, seorang pemuda berdiri dan menawarkan saran yang lain: "Bagaimana jika kita semua memberikan tawaran tertinggi dengan kontribusi uang itu untuk membeli sapi dan uang terkumpul akan dikirim ke Gaza?"

Wanita itu terkejut, dan juga Imam. Ternyata gagasan pemuda itu diterima oleh orang banyak. Kemudian dalam beberapa menit, tawaran mulai bergulir dan banyak dari jama'ah bergegas untuk menyumbangkan uang yang akan dikumpulkan.

Orang-orang mulai menawar, mulai dari 10.000 hingga 30.000 riyals dan terus naik. Suasana di kompleks masjid menjadi bising ketika tawaran jama'ah terus berlangsung tanpa henti sementara para jamaah secara bersamaan terus menyumbangkan uang mereka.

Akhirnya, sapi kurus, dan lemah milik oleh wanita tua dan miskin itu dibeli dengan harga sebesar 500.000 riyals (sekitar 148.000 USD atau sekitar Rp 1 milyar 600 juta)! Si perempuan tua itu jelas sangat gembira dan terharu. Sapinya akhirnya berguna juga.

Ketika uang sudah terkumpul, tanpa disangka-sangka, seorang jamaah mendekati wanita tua itu. “Imam telah memerintahkan kami untuk mengembalikan sapi ini kepada Anda, Ibu.” Ujar sang jamaah itu sambil menangis, karena merasa kagum kepada si ibu tua.

Tanpa diduga, ditakdirkan oleh Allah segalanya, niat wanita miskin yang tua itu untuk membantu meringankan beban rakyat Palestina dibuat mudah oleh Allah sampai-sampai uang dalam jumlah besar itu bisa dikumpulkan, sementara pada saat yang sama dia masih memiliki satu-satunya “aset” yang ia miliki. Subhanallah! (dikutip dari eramuslim)

Sabtu, 05 Desember 2009

kita dorong duet Drajad Wibowo-Hanafi Rais



jelang kongres PAN bulan januari 2010 mendatang, tampaknya peta perebutan kursi ketua umum hanya akan diperebutkan oleh dua orang saja, yaitu Hatta Rajasa dan Drajad Wibowo.

sampai saat ini memang kekuatan masih tampak condong pada Hatta Rajasa, mayoritas DPW disebut-sebut mendukung Hatta Rajasa sebagai calon yang paling tepat untuk menduduki kursi ketua umum yang akan ditinggalkan oleh Sutrisno Bachir yang tidak akan mencalonkan kembali sebagai calon ketua umum dalam kongres mendatang.

di satu sisi, Hatta Rajasa adalah salah satu pendiri PAN yang dikenal dekat dengan Amien Rais, tokoh sentral PAN, namun di sisi yang lain, kedekatan Hatta rajasa dengan SBY menimbulkan kekhawatiran bahwa PAN hanya akan menjadi bayang-bayang demokrat jika PAN dipimpin oleh Hatta Rajasa.

di lain soal, saat ini posisi Hatta Rajasa adalah seorang menteri koordinator yang tentu membutuhkan waktu dan pemikiran yang lebih untuk mengemban tugas yang tidak ringan itu, nah bagaimana nanti jika telah terpilih menjadi ketua umum PAN, apakah sanggup dia membagi waktu antara tugas sebagai menteri dan tugas sebagai ketua umum partai.

Drajad Wibowo adalah seorang kader yang berbasis ekonom yang juga dikenal dekat dengan Amien Rais, selain dikenal vokal, ia juga dikenal tidak pernah berseberangan sikap politik dengan Amien Rais, ini tentu menjadi modal awal baginya untuk maju ke pencalonan ketua umum.

di tambah lagi isu kasus century yang mau tidak mau mengarah ke istana dan demokrat tentu akan membuat banyak pihak di tubuh PAN khawatir jika dipimpin oleh Hatta Rajasa yang dikenal sangat dekat dengan SBY dan kadang nyaris menajdi representasi istana itu.

dan lagi berkaca pada pengalaman Golkar dalam pemilu lalu yang terpuruk, karena apapun hal baik yang dikerjakan oleh pemerintah pasti akan dicitrakan sebagai kerja dari demokrat, maka jika lima tahun ke depan pemerintah berjalan dengan baik, maka yang akan mendapat keuntungan politik hanyalah demokrat saja, tapi sebaliknya jika kerja pemerintah buruk, maka semua partai pendukung pemerintah akan ikut getahnya, termasuk PAN.

oleh karena itulah, kita memerlukan sosok yang bisa menjaga jarak dengan kekuasaan dan punya track record bersih dan reformis untuk membawa PAN berjaya di tahun 2014, dan sosok itu ada pada Drajad Wibowo.

apalagi jika kemudian sosok Sekjen yang nanti terpilih juga adalah sosok yang tidak menduduki posisi publik seperti menteri ataupun anggota dewan, sehingga akan mampu mencurahkan waktunya bagi partai seutuhnya. dan sosok itu ada pada Hanafi Rais, anak sulung Amien Rais, seorang sosok intelektual muda yang sederhana yang tentu akan menjadi darah segar bagi kebesaran PAN.

mari kita kembalikan jatidiri PAN yang reformis dan merakyat dengan duet Drajad Wibowo dan Hanafi Rais.

Selasa, 10 November 2009

Akhirnya Pak Amien Bicara…

setelah beberapa waktu berkeliling ke negara2 eropa, dan berdiam diri dari bicara soal politik sehingga sempat muncul tulisan tentang dimana suara amien rais berkaitan dengan perseteruan antara cicak vs buaya yang menjadi pusat perhatian publik ngeri ini, akhirnya tadi sore Pak Amien mengadakan jumpa pers singkat di senayan berkaitan dengan perseruan cicak vs buaya tersbut.

berikut beberapa petikan komentarnya :

1. tentang sikap diamnya :

“Banyak yang SMS ke saya katanya kok saya diam saja soal KPK dan Polri. Pak Amien please break your silent,”

2. tentang makelar kasus

“Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak maksus atau makelar kasus justru bersarang di lembaga-lembaga penegak hukum dan keadilan, baik di Kepolisian, Kejaksaan dan jangan lupa juga di KPK,”

3. tentang people power

“Saya yakin konflik KPK-Polri dapat melahirkan people power yang bersifat masif. Bila rakyat sudah tak percaya pada lembaga penegak hukum, lembaga pemerintahan, dan lembaga kepresidenan, pada gilirannya menimbulkan chaos (kekacauan),”

jika dilihat dari komentar-komentar Pak Amien diatas, memang tidak ada yang baru, namun yang cukup menarik adalah perhatiannya tentang potensi adanya people power, ketika kepercayaan publik sudah tidak ada lagi pada lembaga-lembaga negara, hal ini sebenarnya sudah ditandai dengan berlimpahnya dukungan terhadap pengusutan kasus bibit samad dan chandra hamzah, yang merupakan simbolisasi terhadap dukungan bagi lembaga KPK yang dinilai masih punya nilai lebih dibanding dengan lembaga-lembaga milik negara yang lain semisal kepolisian dan kejaksanaan.

sebagai seorang yang pernah puluhan tahun mengajar tentang teori revolusi sosial di fakultas fisipol ugm, tentu penilaiannya tentang kemungkinan people power ini bukan hal yang main-main, apalgi memang suara-suara untuk kembali menggulirkan people power sudah mulai terdengar secara sporadis, dan tinggal bagaimana mereka menemukan momentum dan melakukan koordinasi antar gerakan saja.

kita tunggu saja…

Selasa, 20 Oktober 2009

duet rem itu mulai hari ini memimpin negeri…

kinerja pemerintahan suatu negeri, selain akan ditentukan oleh figur-figur yang duduk di kursi kabinet, wajah pemerintahan juga tidak bisa dilepaskan dari gaya kepemimpinan presiden atau perdana menterinya. Dan dalam konteks Indonesia, maka figur dan karakter presiden akan sangat mewarnai gerak langkah kabinet yang dipimpinnya, nah jika kepemimpinan presiden tetap lembek, bisa dipastikan roda pemerintahan juga akan berjalan lambat. Namun, jika kepala pemerintahan sigap dan tangkas, bisa dipastikan gerak pemerintahan juga cepat.

5 tahun ini sebenarnya banyak kalangan menilai SBY-JK sebagai duet yang sempurna. Satu sama lain saling mengisi. Dalam konteks ini, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif mengibaratkan duet presiden dan wakil presiden sebagai perpaduan antara gas dan rem, hanya saja di era SBY-JK justru JK yang menjadi ‘gas’ di pemerintahan, bukan Presiden SBY. “Di tahun 2004 ada yang menarik, karena ‘gas’-nya ada di JK dan ‘rem’-nya ada di SBY,” kata Buya Maarif di Jakarta.

sementara jika kita merunut dalam sejarah negeri ini, duet Soekarno-Hatta, maka Soekarno adalah gas-nya dan Hatta-lah yang bertindak sebagai rem-nya, itulah maka duet dwi tunggal itu begitu kompak membawa negeri kita dalam posisi yang stabil, karena ada gas dan ada rem, namun setelah Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden 1956, maka tinggalnya gas sendirian tanpa rem, sehingga akhirnya kita terjatuh dalam kubangan ketidakstabilan politik yang berujung pada tragedi berdarah G 30 S yang akhirnya membawa kejatuhan Soekarno.

pada era Soeharto, sampai Megawati, fenomena gas dan rem tidaklah kentara lagi dalam pusaran kekuasaan politik di negeri ini, apalagi di masa Soeharto selama orde baru, praktis kekuasaan terletak di satu tangan saja, dan fungsi wakil presiden hanya semata-mata hanya sebagai ban serep saja yang tidak punya kekuasaan dan hanya menjadi pelengkap semata.

pada masa Habiebie, fenomena gas dan rem juga tidak ada karena Habibie tidak punya wakil presiden, meskipun sebenarnya Habibie cukup berpotensi sebagai gas dengan berbagai kebijakan yang cukup “maju” semisal kebijakan untuk jajak pendapat di timtim.

pada masa Gus Dur, yang terjadi hanyalah gonjang-ganjing semata karena berbagai kontroversi akibat pernyataan-pernyataan yang dilontarkan, yang akhirnya semua kontroversi itu diakhiri dengan pelengseran dirinya sebagai presiden dengan mengambil pintu masuk kasus bruneigate dan bullogate, yang tidak kita ketahui endingnya sampai sekarang kedua kasus itu.

pada masa Megawati, praktis tidak ada juga fenomena gas dan rem, duetnya bersama Hamzah Haz adem ayem saja dalam memimpin negeri ini, nyaris tanpa terobosan yang berarti, itulah yang berakibat dirinya tidak terpilih lagi pada pemilu 2004, pun juga 2009 ini.

duet SBY_JK adalah fenomena yang menarik, karena kebalikan dari duet Soekarno_Hatta yang wakil presidennya berfungsi laksana rem, pada masa duet SBY_Jk ini jsutru wakil presiden lah yang bertindak sebagai gas, dan presiden yang malah bertindak sebagai rem.

kini, setelah kepemimpinan nasional beralih pada duet SBY_NO, maka fenomena gas dan rem kembali hilang, karena duet ini disinyalir akan bertindak laksana rem semua, maka bisa jadi dalam masa kepemimpinan kali ini, duet ini akan adem ayem saja tanpa terobosan yang berarti, sebagaimana duet Mega_Hamzah. dan hal ini sudah dimulai dengan pola perekrutan kabinet yang lebih banyak diisi oleh kaum tua, yang tentu saja akan kurang progresif mengahadpi situasi global yang membutuhkan tangan-tangan muda yang sigap dan tangkas dalam bertindak….

akhirnya selamat deh….

moga tidak dalam-dalam amat menginjak rem-nya….


Minggu, 18 Oktober 2009

kursi ketua MPR lepas, kursi menko pun tak ter raih oleh PKS...

hari ini sudah 16 orang yang mengikuti audisi calon menteri kabinet KIB II,

1. Djoko Suyanto (Menko Polhukam)
2. Hatta Rajasa (Menko Perekonomian)
3. Agung Laksono (Menko Kesra)
4. Sudi Silalahi (Mensesneg)
5. Suryadharma Ali
6. Sri Mulyani (Menteri Keuangan)
7. Gamawan Fauzi (Mendagri)
8. Mari Pangestu (Manteri Perdagangan)
9. Jero Wacik (Menbudpar)
10. M Nuh (Mendiknas)
11. Syarif Hasan (Menakertrans/BUMN)
12. Tifatul Sembiring (Menkominfo)
13. Sutanto (Menkum HAM/ESDM)
14. Salim Segaf al Jufrie (Mensos)
15. Muhaimin Iskandar (Menneg PDT)
16. Andi Mallarangeng (Menpora)

dari deretan nama-nama di atas dan prediksi kursi yang akan dijabatnya, maka tampaknya PKS adalah partai yang cukup tertohok dalam posisi di koalisi cikeas ini, bayangkan dalam periode 2004-2009, mereka mampu mendudukkan kader mereka HNW menjadi ketua MPR, yang pada kali ini ternyata mereka dikalahkan dengan kesepakatan belakang layar antara PDIP dan Demokrat, sehingga kursi ketua MPR lepas dari tangan PKS dan kini diduduki oleh TK dari PDIP.

setelah kursi ketua MPR terlepas dari tangan, maka para petinggi PKS mencoba mendekati sby agar mendapatkan kursi menko kesra yang rencananya akan diserahkan pada HNW.

" Tifatul justru memperjuangkan agar Hidayat Nurwahid menjadi Menko Kesra. “Pak Hidayat akan kita carikan posisi yang terhormat. Sebagai Menkokesra bolehlah,” tegas Tifatul. "

namun tampaknya harapan dan usaha dari PKS itu juga mengalami kegagalan, karena tampaknya kursi menko kesra justru akan diberikan oleh sby pada tokoh Golkar, AL, yang pada pemilihan presiden yang baru lalu, seperti kita tahu Golkar bukan lah bagian dari koalisi cikeas.

maka tampaknya memang PKS betul-betul bakalan gigit jari kali ini, karena dalam koalisi cikeas, awalnya mereka adalah peraih kursi terbanyak kedua setelah Demokrat, sehingga mereka selalu menuntut untuk mendapat yang lebih dari anggota koalisi yang lain, namun seiring masuknya Golkar dalam barisan koalisi, tampaknya keinginan dan tuntutan dari PKS itu akan tidak kesampaian, terbukti kursi ketua MPR sudah terlepas dari tangan mereka, kini kursi menko kesra yang mereka gadang-gadang untuk HNW pun bakalan lepas dari tangan mereka.

" Dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dipastikan ada empat kursi menteri. Jatah empat kursi menteri tersebut, ternyata sudah tertuang dalam kontrak politik PKS dengan SBY saat maju dalam Pilpres mendatang. Jatah empat menteri tersebut antara lain akan ditempati oleh Presiden PKS Tifatul Sembiring sebagai Menkominfo, mantan Presiden PKS Hidayat Nurwahid yang akan diplot menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra)."

maka jika gembar-gembor bahwa mereka bakal dapat 4 kursi yang kita dengar sebelum ini ternyata juga tidak terbukti, kita tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh PKS, akankah mereka ngambek dan keluar dari koalisi?

Sabtu, 10 Oktober 2009

ketika politik kita semakin monolitik...

ketua MPR akhirnya bener-benar jatuh ke tangan TK, yang secara de fakto adalah penguasa PDIP, kemudian munas PG akhirnya memilih ARB sebagai bos barunya menggantikan JK.

secara normatif tidak ada yang masalah apapun dengan dua peristiwa di atas, keduanya adalah proses yang wajar saja, yang satu wajar saja seorang anggota DPR/MPR terpilih jadi ketua MPR, yang satu adalah wajar ketika seorang kandidat ketua terpilih dalam pemilihan ketua.

mengapa kemudian kita menjadi tertarik untuk melihat kedua peristiwa itulah, adalah karena sebuah alasan yang sederhana saja, kedua peristiwa itu akan membawa sebuah konsekuensi hilangnya keseimbangan politik di bumi nusantara tercinta ini.

semua dari kita sangat tahu bahwa PDIP adalah partai yang mengusung mega sebagai penantang SBY No dalam pilpres tempo hari, sebagaimana PG adalah pengusung Jk yang juga ikut jadi penantang SBY. nah karena posisi kedua partai itu sebagai partai non koalisi cikeas itulah maka banyak pihak menggadang-gadang keduanya menjadi partai oposisi semala masa pemerintahan SBY 5 tahun ke depan.

namun dengan terpilihnya TK sebagai ketua MPR yang semua juga mafhum karena kompromi dan pendekatan atau istilah jawa-nya karena gedhek anthuk dengan PD, yang juga diamini oleh PG maka semua juga tahu bahwa ini adalah upaya meredam dan mencegah agar PDIP tidak menjadi partai oposisi. hal yang sama juga berlaku dengan PG, yang kita tahu bahwa polaritas yang terjadi baik sebelum maupun selama munas dalah antara kubu pro pemerintah yang mengusung ARB dan kubu yang pro oposisi yang mengusung SP. dan kita tahu bahwa pada akhirnya ARB yang pro pemerintah lah yang menang. dan menjadi semakin terang-benderanglah manakala pasca terpilihnya ARB menjadi bos PG, ia tidak kemudian bersilaturahmi dengan para sesepuh PG untuk meminta masukan dan saran bagi kemajuan PG ke depan, namun justru malah sowan ke cikeas.

benci tapi rindu dan kau datang dan pergi sesuka hatimu, menurut TS menjadi semacam sindiran bagi kedua partai kuning dan merah itu tampaknya memang menggambarkan situasi hubungan politik ketiga partai tersebut, merah,kuning,biru yang secara alamiah adalah 3 warna dasar(primer) yang ada, maka tidak heran ketiga warna itulah yang menjadi warna dominan dalam percaturan politik saat ini, dan karena ketiganya semakin mendekat satu sama lain, maka guyonan bahwa bisa jadi akan tercipta Partai Perjuangan Karya Demokrat, meski hanya guyonan, menunjukkan bahwa ketiga partai ini akan menjadi semakin sulit dibedakan satu sama lain, dan menjadi semakin sulit dipisahkan.

dan yang justru merisaukan adalah ketika partrai merah dan kuning betul-betul masuk dalam kabinet yang akan diumumkan pasca 21 oktober mendatang, maka tuntas sudah harapan adanya keseimbangan politik di negeri ini, dan paduan suara di senayan niscaya akan semakin sering kita dengar.

dan ketika itu semua terjadi, maka ibarat bom waktu saja, tinggal kapan meletusnya, Wallahu alam...

Senin, 14 September 2009

mensucikan harta....

dalam ajaran Islam, terdapat tiang-tiang utama bangunan agama islam yang dikenal dengan 5 rukun Islam, Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dan Haji.

dalam kitab suci Al Quran dapat kita jumpai bahwa setiap perintah untuk mendirikan Sholat selalu disertai dengan perintah untuk menunaukan Zakat.

ini menunjukkan betapa sesungguhnya ajaran Islam bukan semata ajaran yang mengajarkan egoisme hubungan antara seorang makhluk dengan Tuhan_Nya semata, namun ajaran yang mengajarkan betapa harus ada keseimbangan antara hubungan antara seorang makhluk dengan Tuhan serta hubungan antara seorang makhluk dengan makhluk yang lain. sebuah ajaran yang lazim dikenal dengan sebutan hablum minallah dan hablum minannas.sehingga tidak sempurnalah iman seseorang tanpa disertai dengan amal sholeh yang dia lakukan.

di bulan Ramadhan inilah kemudian kita juga senantiasa diingatkan betapa pentinganya kita menggali kepekaan dan kepedulian kita terhadap sesama. oleh karena makna yang paling dangkal sekalipun ketika kita menggali makna puasa adalah betapa kita dituntut untuk merasakan betapa beratnya tidak makan dan tidak minum yang selama sehari itu, agar kita bisa merasakan bagaimana lapar dan dahaganya para fakir dan miskin yang berhari-hari tidak makan dan minum.

Ramadhan adalah sebuah masa untuk kita menggali dan menemukan sifat-sifat kemanusiaan kita yang kemudian akan kita kembangkan dan kita terjemahkan dalam perbuatan nyata kita kepada sesama selepas Ramadhan.

salah satu bentuk ajaran yang senantiasa populer di bulan Ramadhan adalah Zakat, baik yang zakat fitrah maupun zakat mal. mensucikan harta, demikianlah konsep tentang zakat ini sesungguhnya, karena dalam ajaran Islam, setiap harta yang kita peroleh dengan cara yang halal, maka ada hak kaum miskin di dalam sebagian harta iotu yang harus ditunaikan dan diserahkan kepada meraka agar harta kita menjadi harta yang barakah. hal ini tetntu saja sebuah pengajaran yang luar biasa tentang makna kesetiakawanan sosial dan kemanusiaan.

jadi kalau sekarang ini ada istilah CSR bagi perusahaan-perusahaan, maka sesungguhnya inti dari CSR itu bisa kita temukan juga dalam zakat. hanya memang kita saksikan betapa kesadaran untuk mengeluarkan zakat itu tampak masih kurang di negeri ini, dan bahkan ada juga yang mau melaksanakan lebih terkesan “mencari popularitas” semata. karena bukankah sebenarnya untuk membayarkan zaklat itu sudah ada berbagai macam lembaga amil dan zakat yang sudah diakui kredibilitasnya, namun kita masih sering saksikan orang-orang tertentu lebih suka menyalurkan zakatnya sendiri dengan megumpulkan ribuan bahkan puluhan ribu orang dalam satu tempat yang bisa mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan sebagaimana tragedi zakat beberapa tahun yang lalu di jawa timur.

padahal sebenarnya kalau saja zakat mal itu tidak dibayarkan hanya pada bulan Ramadhan saja, karena sesungguhnya memang perintahnya adalah dibayarkan setiap setahun sekali, yang artinya tidak harus di bulan Ramadhan. dan pembayaran zakat itu dilakukan lewat lembaga amil zakat yang kredibel, maka penanganan dan penyaluran zakat bisa dikelola dengan lebih baik, tidak semata dibagikan dalam bentuk barang atau uang yang bersifat sekali habis semata, namun bisa juga disalurkan dengan bentuk modal usaha dengan terlebih dahulu ada pelatihan ketrampilan dan sebagaimananya, maka sesungguhnya itu akan lebih baik dan bermanfaat jangka panjang bagi para penerima zakat, dan juga pemberi zakat sesungguhnya.

Senin, 07 September 2009

caleg DPR RI 2009-2014 PAN Terpilih

DAFTAR CALEG TERPILIH DARI PAN SESUAI HASIL KEPUTUSAN KPU YANG DIBACAKAN 3 SEPTEMBER 2009


DAFTAR CALEG DPR RI 2009-2014 TERPILIH PARTAI AMANAT NASIONAL

NO.

DAERAH PEMILIHAN

NAMA CALON TERPILIH

1

NANGGROE ACEH DARUSSALAM I

AZWAR ABU BAKAR

2

SUMATERA UTARA I

IBRAHIM SAKTY BATUBARA

3

SUMATERA UTARA II

YAHDIL ABDI HARAHAP, SH, MH

4

SUMATERA UTARA III

H. NASRIL BAHAR, SE

5

SUMATERA BARAT I

M. ICHLAS EL QUDSI, SSI, M.Si

6

SUMATERA BARAT II

TASLIM, S.Si

7

RIAU I

H. ASMAN ABNUR, SE. MSI

8

SUMATERA SELATAN II

HANNA GAYATRI,SH

9

BENGKULU

HJ. DEWI CORYATI, MSI

10

LAMPUNG I

H. ZULKIFLI HASAN, SE, MM

11

LAMPUNG II

IR. ALIMIN ABDULLAH

12

JAMBI

RATU MUNAWARAH ZULKIFLI

13

H. A. BAKRI HM, SE

14

DKI JAKARTA I

H. ANDI ANZHAR CAKRA WIJAYA

15

BANTEN II

DRS. H. RUSLI RIDWAN MSI

16

JAWA BARAT IX

PRIMUS YUSTISIO

17

JAWA BARAT X

Ir. CHANDRA TIRTA WIJAYA

18

JAWA BARAT XI

ERI PURNOMO HADI *

19

JAWA TENGAH II

H. NASRULLAH, S.Ip

20

JAWA TENGAH IV

ABDUL ROZAQ RAIS

21

JAWA TENGAH V

Dr. MARWOTO MITROHARDJONO, SE, MM

22

JAWA TENGAH VI

Ir. H. TJATUR SAPTO EDY, MT

23

JAWA TENGAH VII

Ir. TAUFIK KURNIAWAN, MM

24

JAWA TENGAH VIII

AHMAD MUMTAZ RAIS, SE

25

JAWA TENGAH IX

Ir. H. TEGUH JUWARNO, M.Si

26

JAWA TENGAH X

Drs. ABDUL HAKAM NAJA, M.SI

27

D.I. YOGYAKARTA

H. TOTOK DARYANTO, SE

28

JAWA TIMUR I

Ir. SUNARTOYO

29

JAWA TIMUR VI

A. RISKI SADIG

30

JAWA TIMUR VII

Dra. MARDIANA INDRASWATI

31

JAWA TIMUR VIII

EKO HENDRO PURNOMO

32

JAWA TIMUR IX

MUHAMMAD NAJIB

33

JAWA TIMUR X

VIVA YOGA MAULADI, M.Si

34

JAWA TIMUR XI

DRS.H. ACH RUBAIE,SH,MH

35

KALIMANTAN BARAT

H. SUKIMAN, S. Pd. MM

36

KALIMANTAN TENGAH

HANG ALI SAPUTRA SYAH PAHAN

37

KALIMANTAN SELATAN I

Prof. Dr. ISMET AHMAD

38

NUSA TENGGARA BARAT

MUHAMMAD SYAFRUDIN, ST

39

NUSA TENGGARA TIMUR I

LAURENS BAHANG DAMA

40

SULAWESI SELATAN I

INDIRA CHUNDA THITA SYAHRUL, SE, MM

41

SULAWESI SELATAN II

A. TAUFAN TIRO, ST

42

SULAWESI SELATAN III

AMRAN, SE

43

SULAWESI TENGGARA

WA ODE NURHAYATI, S. Sos

44

SULAWESI UTARA

DRA. YASTI SOEPREDJO MOKOAGOW

45

SULAWESI BARAT

H. HENDRA S SINGKARRU, SE

* masih bermasalah karena yang bersangkutan belum mundur dari BUMN BPH MIGAS

untuk Dapil Papua masih ditunda pengumumannya.

(sumber KPU)