Selasa, 01 September 2009

tugas intelektual muslim

Untuk mewujukan cita islam sebagai rahmatan lil alamin, harus dimulai dengan dibangun masyarakat yang kaya akan pemikiran, ilmu pengetahuan dan kaya hati serta mempunyai wawasan yang luas. Untuk membangun sebuah masyarakat atau lingkup yang lebih luas (baca : Negara dan bahkan dunia), harus dimulai dari lingkup yang lebih kecil, yaitu dimulai dari keluarga, yang berkembang pada masyarakat sekitar dan pada gilirannya berlanjut pada masyarakat yang lebih luas, demikian sterusnya berlanjut ke linngkup yang lebih besar lagi yaitu Negara, yang jika dilanjutkan terus maka tercapailah pada titik terluas masyarakay, yaitu dunia. Namun semua akan berjalan lancar jika dimulai dari membangun diri sendiri. Jika ingin membangun bangsa, bangunlah jiwanya, kata Indonesia Raya kita, ya bangunlah dulu jiwanya, baru bangun badannya, untuk Indonesia Raya. Dan jika Indonesia Raya betul-betul telah dibangun jiwa dan badannya, maka tentu tentu bisa menyebarkan kemajuan masyarakatnya ke seputar Asia Tenggara, dan tidak justru hanya "dikuya-kuya" seperti sekarang ini oleh Malaysia ataupun oleh Singapura.


Agenda pembangunan pemikiran masyarakat tersebut tak lain dan tak bukan adalah kewajiban intelektual muslim. Kaum intelektual sebagaimana yang telah menjadi kesepakatan umum yang berkembang dalam masyarakat merupakan suatu golongan yang mempunyai peranan penting dalam proses transformasi sosial, ia harus mempunyai keberpihakan kepada masyarakat sekitarnya, terutama kaum dhu'afa secara sosial politik dan ekonomi sekaligus memperjuangkan aspirasi mereka. Seorang intelektual muslim harus mempunyai integritas, pengabdian serta komitmen yang jelas dalam membangun peradaban umat dan bangsanya. Apabila seorang intelektual tidak mempunyai concern terhadap misi dan komitmen ini, maka ia bukanlah seorang intelektual, melainkan hanyalah seorang peneliti, akademisi atau politisi. Dan oleh karena tugas itulah maka seorang intelektual adalah sosok yang dekat dengan sumber-sumber pengetahuan sekaligus dekat dan bersinggungan langsung dengan masyarakat. Seorang intelektual yang oleh karena tugasnya sebagai seorang pelaku mandate pembangunan masyarakat, maka bukanlah ia yang memiliki segudang teori dan pengetahuan, namun tidak pernah bersinggungan dengan masyarakat, dengan kalimat yang popular, seorang intelektual, bukanlah seorang yang hanya duduk di menara gading yang tidak terjangkau oleh masyarakat di sekitarnya.
Dalam membangun sebuah masyarakat, seorang intelektual harus turun langsung bergaul dengan masyarakat yang dibangun tersebut. Tugas kaum intelektual tidak semata menganyam kata, menelurkan gagasan, tetapi juga harus berupaya mengubah realitas yang timpang, mengubah kata- kata menjadi kenyataan.

Dalam pandangan seorang cendikiawan muslim, Kuntowijoyo, kaum intelektual muslim paling tidak harus bisa berperan dalam dua hal: Pertama, dalam hal manajemen yang rasional; dan Kedua, membantu umat dalam perang gagasan, intellectual war. "Kita sedang menghadapi ‘perang', ghazwul fikr atau intellectual aggression. ‘Musuh' mereka ialah materialisme dan sekularisme dunia modern. Tugas intelektual Muslim ialah berjihad intelektual," demikian Kunto pernah menganjurkan. Menurutnya, seorang intelektual adalah pewaris Nabi. Karenanya seorang intelektual Muslim tidak boleh berpangku tangan, sementara dunia akan tenggelam. Sementara Amien Rais, mengenalkan konsep Tauhid Sosial, yang melalui Tauhid Sosial tersebut, umat Islam dituntut untuk mempraktikkan nilai-nilai Tauhid ke dalam realitas sosial secara benar. Seorang muslim tidak cukup hanya menjalankan tauhid dengan meyakini bahwa Allah itu esa, tetapi juga harus peka terhadap urusan kemanusiaan, sehingga muncul keseimbangan antara ibadah dan perilaku sosial. Hal inilah yang disebut sebagai amal shalih. Dengan konsep tauhid sosial ini ummat islam diingatkan bahwa di dalam Al Quran, setiap kali disebut tentang orang-orang yang beriman, pasti senantiasa dibarengi dengan penyebutan yang beramal sholeh, artinya memang, Islam adalah sebuah agama yang tidak hanya menekankan hubungan individu dengan TuhanNya saja, namun juga harus diimbangin juga dengan hubungannya dengan manusia dan alam sekitarnya. Itulah juga kita bisa membaca setiap perintah untuk mendirikan Sholat dalam ayat-ayat al Quran, pasti juga selalu diiringi perintah untuk menunaikan zakat. Dengan konsep keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia yang lain inilah, sesungguhnya peradaban Islam itu dibangun. Bahwa orang ber Islam tidak hanya berarti dia punya kewajiban untuk berhubungan dengan Tuhan tapi sekaligus adalah kewajiban unutk membangun hubungan dengan masyarakat. Bukankah tidak termasuk golongan Ummatku kata Rasulullah seorang yang perutnya kekenyangan dan kelebihan makanan, sementara tetangganya ada tidak bisa tidur karena kelaparan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar