Senin, 15 Juni 2009

sekelumit tentang nasib pahlawan devisa...

Tenaga kerja Indonesia (TKI), Ismail (38), meninggal dunia di RSUD Koja, Jakarta Utara, Jumat (5/6) pagi, akibat penyiksaan di penjara Keluang, Johor Baru, Malaysia.

Cerita duka TKI di Malaysia masih saja terulang. Kali ini Siti Hajar, pembantu rumah tangga asal Garut, Jawa Barat, disiksa dan tidak dibayar gajinya selama 34 bulan oleh majikannya di Malaysia.

Nurul Wijayanti (23), TKW asal RT 5/RW 2 Desa Dinden, Kecamatan Kwadungan, Kabupaten Ngawi, Jatim, ditemukan tewas, diduga gantung diri di rumah orangtua majikannya tempat ia bekerja di Malaysia.

Onis, tenaga kerja Indonesia (TKW) asal Kampung Jati RT 03/13 Desa Sarimukti Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, dikabarkan tewas gantung diri di rumah majikannya, Sarawak, Malaysia. Keluarga Onis mengetahui kabar kematian dari sepucuk surat yang dilayangkan Polsek Cipatat, 3 Juni.

Nurul Wijayanti (23), TKW asal RT 5/RW 2 Desa Dinden, Kecamatan Kwadungan, Kabupaten Ngawi, Jatim, ditemukan tewas, diduga gantung diri di rumah orangtua majikannya tempat ia bekerja di Malaysia.

Kalau diteruskan daftar itu, mungkin seribu halaman pun tidak akan cukup untuk menampung daftar tenaga kerja kita di luar negeri yang mengalami nasib buruk, entah disiksa oleh majikannya, entah diperkosa, tidak dibayar gajinya, dibunuh mapun bunuh diri karena tak tahan siksaan.

Yang jadi pertanyaan besar adalah: tanggung jawab siapa ini sebenarnya?

Mereka adalah warga negara kita, yang dengan gagah kita beri sebutan pahlawan devisa, namun apa yang telah kita berikan sebagai bangsa untuk membayar apa yang telah mereka berikan kepada kita sebagai pahlawan devisa

kebanyakan dari meraka ketika ditanya mengapa harus mengadu nasib ke luar negeri, meraka akan menjawab, meraka ingin nasib yang lebih baik sekembalinya dari luar negeri, mimpi akan penghidupan yang layak yang lebih baik telah mengantar mereka ke bnegari-negeri jiran, tak peduli dengan resiko yang akan mereka jalani.

sepintas sederhana, mereka ingin penghidupan yang lebih baik, setiap orang pasti punya fikiran yang sama dengan mereka. tapi mengapa harus ke negari seberang?

rata-rata mereka akan menjawab, cari kerja di dalam negeri sulit.

padahal kita telah memberi mandat kepada orang-orang terpilih setiap lima tahun untuk melaksanakan apapun yang harus dilakukan untuk mengemban amanat : melindungi segenap tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Melindungi segenap tumpah darah berarti adalah termasuk didalamnya melindungi setiap warga Negara kita, dimanapun meraka berada, apalagi mereka yang berjasa pada bangsa dan negara (pahlawan devisa).

memajukan kesejahteraan umum secara sederhana bisa diartikan adalah bekerja untuk mewujudkan kondisi agar setiap warga negara kita menjadi lebih sejahtera dari waktu ke waktu.

Namun apakah mereka yang telah kita pilih lima tahun yang lalu sebagai pengemban amanat tersebut telah berhasil melaksanakannya? apakah segenap tumpah darah Indonesia telah terlindungi? apakah setiap warga negara telah meningkat kesejahtaraannya?

Deretan fakta yang menimpa anak-anak bangsa, para pahlawan devisa itu mungkin bisa sedikit memberi gambaran, apakah yang kita beri manat lima tahun yang lalu telah berhasil melaksanakan amanat itu, dan pantas kita beri amanat lagi selama lima tahun ke depan, atau mereka memang telah gagal melaksanakan amanat itu, dan oleh karenanya kita butuh orang lain yang kita gagas mampu untuk melaksanakan amanat itu dengan lebih baik!

Anda sekalian tentu lebih bisa menilai dari saya….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar